Makam Sentosa Pangkalpinang: Ketika Sejarah Berbisik dari Batu Nisan

oleh -386 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Di jantung Pulau Bangka, terhampar sebuah permadani sejarah yang terukir di atas tanah: Kompleks Makam Tionghoa Sentosa Pangkalpinang. Nadi peradaban Tionghoa di tanah Melayu ini, kini menjelma saksi bisu dari zaman ke zaman, membisikkan kisah para leluhur yang bersemayam abadi.

Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, seorang Sejarawan dan Budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, membuka tabir masa lalu dengan penuh hikmat. “Kompleks makam ini adalah permata sejarah yang tak ternilai,” ujarnya, suaranya bagai gemerisik daun tua yang menyimpan rahasia. Ia mengungkapkan bahwa fondasi megah pemakaman ini dibangun oleh empat pilar, empat nama yang kini menjadi prasasti abadi: Yap Fo Sun (wafat 1972), Chin A Heuw (wafat 1950), Yap Ten Thiam (wafat 1944), dan Lim Sui Cian (yang tahun wafatnya diselimuti kabut kelam pendudukan Fasisme Jepang).

banner 336x280

Pada tahun 1935 Masehi, di bawah pemerintahan Residen Mann, CJ (1934-1942), denyut pembangunan kompleks makam ini mulai terasa di Pangkalpinang. Sebuah prasasti di tugu pendiri, yang gagah berdiri di sisi barat Paithin—rumah sembahyang, memahat nama-nama sang pendiri dengan tinta tak kasat mata. Kini, Makam Sentosa, yang akrab disebut Ngi Cung, membentang laksana samudra keabadian di Jalan Bukit Abadi, memeluk erat sisi timur Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang. Luasnya pun bak hamparan impian, mencapai 199.450 m² (19,945 hektar), sebuah kota kecil bagi para penghuni keabadian.

Sebelum tirai megah Makam Sentosa tersibak, peta lama Resident Bangka en Onderh. tahun 1928-1929 telah menorehkan jejak. Di sisi timur jalan beraspal menuju Distrik Koba, tepat di Tugu 3 kilometer, telah banyak Chineesche Graven atau makam orang China (Tjhunghua Kung Mu Yen). Mereka adalah benih-benih awal yang kemudian pada tahun 1935 disiram dan tumbuh menjadi kompleks makam Tionghoa Sentosa, ditandai dengan gerbang megah, Paithin, dan tugu pendiri yang menjulang.

Di antara ribuan batu nisan yang berbaris rapi, satu makam berdiri tegak, memancarkan aura kemegahan—makam Oen Nyiem Foek. Letaknya yang strategis di sisi selatan jalan utama pemakaman seolah mengisyaratkan statusnya yang tak sembarangan. Wafat pada usia 83 tahun di Pangkalpinang, namanya terukir di Bongpai makam dengan tulisan “Min Kwet Sin Ngian”—sebuah frasa yang menuntun kita ke masa lalu, “makam dipugar di Tahun Keempat pemerintahan Sun Yat Sen.” Ini mengisyaratkan pemugaran terjadi sekitar tahun 1915 Masehi, saat tokoh besar pendiri Partai Nasionalis Cina Kuo Min Tang itu sedang mengukir sejarah.

Berdasarkan Regeeringalmanak voor Nederlandsch-Indie, 1893, Oen Nyiem Foek bukanlah nama asing. Ia adalah Kapitien/Luitenant Der Chinezen Afdeling Pangkalpinang yang menjabat sejak 18 Desember 1879, sebuah jabatan kehormatan yang menjadi jembatan antara komunitas Tionghoa dan pemerintah kolonial. Darah bangsawan mengalir dalam nadinya, ia adalah keturunan dari Oen Men Chiew yang makamnya tersembunyi di Kampung Besi (Thiatfu), tak jauh dari Kelenteng Fuk Tet Che (kini Simpang Semabung). Silsilahnya terentang hingga Oen Chi Phin, sang leluhur yang berlayar dari Liuk Fung ke Pulau Bangka sekitar tahun 1725-1733. Makam Oen Chi Phin yang terletak di Kampong Tjoihin Sungailiat menjadi bukti bisu perjalanan panjang keluarga ini. Tak heran, Oen Nyiem Foek adalah generasi ketiga keluarga Oen yang telah mengakar kuat di Bumi Serumpun Sebalai.

Kompleks Makam Tionghoa Sentosa bukan hanya sekadar tempat peristirahatan terakhir. Ia adalah museum terbuka, buku sejarah yang tercetak di atas tanah, menunggu untuk dibaca dan dimaknai oleh generasi penerus. (MJ001)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.