Bangka, Berita-Fakta – Peta historis Keresidenan Bangka yang dibuat pada pertengahan abad ke-19 mengungkap detail menarik tentang pembagian wilayah sembilan distrik, termasuk batas-batasnya yang digambarkan dengan garis biru tebal.
Penelitian oleh Letnan Dua L. Ullman dalam Kaart van het Eiland Banka (1852-1855) mencatat keberadaan sejumlah kampung di Distrik Merawang dan Sungailiat, yang menjadi cikal bakal perkembangan sosial dan budaya masyarakat Bangka modern.
Kampung-Kampung di Distrik Merawang dan Sungailiat
Di Distrik Merawang, yang merupakan pecahan dari Distrik Sungailiat, tercatat 18 kampung, seperti Batoe Roessak, Djoerong, Tjingal, Kambanit, Kimak, hingga Payakang.
Beberapa nama kampung, seperti Kambanit, Moendar, dan Payakang, kini telah hilang dari catatan sejarah.
Sementara itu, di Distrik Sungailiat, kampung-kampung seperti Soengi Leat, Mangkoeloel, Neoret, dan Njalauw juga tercatat, dengan beberapa nama seperti Mangkoeloel dan Neoret tidak lagi ditemukan saat ini.
Nama-nama seperti Ailekka Dalil kini disederhanakan menjadi Dalil.
Menurut Dato’ Akhmad Elvian, sejarawan dan budayawan Bangka Belitung, toponimi kampung-kampung ini menunjukkan jejak sejarah yang masih relevan dengan nama-nama kampung modern.
“Nama-nama kampung ini mencerminkan proses akulturasi dan interaksi antar-etnis yang membentuk identitas masyarakat Bangka,” ujarnya.
Kebijakan Kolonial Belanda dan Pembangunan Infrastruktur
Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan kebijakan pembangunan jalan dan pemindahan kampung untuk mempermudah akses ke wilayah pertambangan di Distrik Merawang dan Sungailiat.
Jalan setapak dan jembatan dibangun untuk mendukung kontrol pasukan dan mencegah perlawanan rakyat.
Strategi ini mirip dengan *Briggs Plan* yang diterapkan di Malaya pada abad berikutnya, di mana penduduk dipindahkan ke kampung-kampung baru di sepanjang jalan utama untuk memudahkan pengawasan.
Selain itu, pengukuran Sungai Layang oleh Letnan Laut Uhlenbeck pada 1850-1851 menunjukkan bahwa sungai ini dapat dilayari kapal kecil hingga ke pedalaman.
Pemerintah kolonial juga merencanakan pembangunan kanal melalui Sungai Jering, Semubur, Layang, dan Merawang untuk mendukung transportasi air dari selatan ke barat laut dan pantai timur laut Pulau Bangka.
Perkembangan Kampung dan Identitas Bangka
Hingga 1896, sekitar 2.000 rumah telah dibangun di sepanjang jalan utama di berbagai perkampungan di Bangka.
Infrastruktur jalan dan kampung bentukan Belanda menjadi cikal bakal desa-desa modern di pulau ini.
Kebijakan ini juga memengaruhi proses interaksi, sosialisasi, dan akulturasi antar-etnis, yang melebur menjadi identitas “Orang Bangka” seperti yang dikenal saat ini.
Laporan Residen Bangka pada 1853 menyebutkan pulau ini sebagai salah satu keresidenan paling teratur di koloni Belanda.
Jejak Komunitas Tionghoa di Bangka
Catatan sejarawan Franz Epp dan peta tahun 1932 menunjukkan keberadaan komunitas Tionghoa yang signifikan di Distrik Sungailiat dan Merawang.
Banyak kampung kecil di wilayah ini menggunakan toponimi dalam dialek Hakka, seperti Tonghin, Parit Paknginjoen, dan Tjoihin.
Menurut Epp, sekitar 13,91% dari 8.556 penduduk di kedua distrik ini adalah etnis Tionghoa pada pertengahan abad ke-19.
Bukti arkeologi juga menguatkan keberadaan komunitas Tionghoa, seperti makam Oen Chi Phin di Kampung Tjoihin, Sungailiat, yang diperkirakan berasal dari 1725-1733.
Makam ini terletak pada koordinat S 01°56’451”-E 106°07’811”, menandakan eksistensi awal komunitas Tionghoa di pesisir timur Bangka untuk mengeksplorasi tambang timah.
Warisan Bahasa dan Budaya
Peta bahasa (*Schets-Taalkaart*) tahun 1889 yang disusun K.F. Holle mencatat penggunaan dialek Tionghoa di Kampung Rebo, menunjukkan mayoritas penduduknya adalah etnis Tionghoa.
Selain dialek Tionghoa, terdapat pula dialek Melayu Bangka, Sekak, dan lainnya, mencerminkan keragaman budaya di Keresidenan Bangka.
Kesimpulan
Sejarah kampung dan toponimi di Bangka mencerminkan perjalanan panjang akulturasi budaya dan pengaruh kolonial Belanda.
Infrastruktur jalan, kanal, dan pemindahan kampung tidak hanya memengaruhi tata ruang, tetapi juga membentuk identitas masyarakat Bangka yang kaya akan keragaman etnis.
Jejak komunitas Tionghoa, yang terlihat dari toponimi dan situs bersejarah, menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya pulau ini.
Sumber:
– *Kaart van het Eiland Banka* (1852-1855) oleh Letnan Dua L. Ullman
– *Kolonial Verslaag Residen Bangka* (1850-1851)
– *Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden* oleh Franz Epp (1852)
– Peta Residen Bangka 1932, Leiden University Libraries
– *Schets-Taalkaart, van de Residentie Bangka* oleh K.F. Holle (1889)
– Penelitian Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung












