Pusara Tua di Kaki Penyengat: Menguak Jejak Ulama Pedagang, Said Abas Al Athas

oleh -480 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Di tengah bisikan ombak dan kokohnya Bukit Penyengat Benteng Penutuk Pulau Lepar, tersimpan sebuah misteri yang membangkitkan rasa ingin tahu. Tiga nisan tua mematung di sana, menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Namun, hanya satu yang berbisik lewat aksara Arab: “1268 Hijriah, Said Abas Ibnu Ali Al Athas.”

 

banner 336x280

Tahun 1851 Masehi, atau 1268 Hijriah, adalah waktu ketika Said Abas Bin Ali Al Athas berlayar menuju keabadian di pesisir Pulau Lepar. Makamnya menghadap setia ke Selat Lepar dan Pulau Bangka, seolah masih memantau perlintasan kapal-kapal dagang, tak jauh dari Tanah Merah yang melegenda di Kampung Penutuk. Siapakah sosok gemilang ini yang namanya terukir abadi dalam batu nisan?

 

Tabir misteri mulai tersingkap melalui catatan kuno. Koran Belanda, Utrechstche Provinciale en Stads Courant pada 9 Oktober 1844, membeberkan bahwa “……en eenen zendeling van tenen Arabier Said Abas genamd, die zich, om ruilhandel te drijven al daar bevond.” Ungkapan ini menjelaskan Said Abas sebagai seorang ulama penyebar Islam keturunan Arab yang juga piawai dalam perdagangan barter. Ia bukan sekadar pedagang, melainkan duta damai yang menguasai seni negosiasi.

 

Perannya sebagai negosiator tak terbantahkan. Berita awal Utrechstche Provinciale en Stads Courant juga menyorot keterlibatannya dalam pembebasan 34 awak kapal atau Wangkang dari Siam bernama Kim Soen. Kapal ini, pada 23 Februari 1844, terdampar tak berdaya di Pulau Sambong (Pulau Turan) dekat Kepulauan Belitong, sebelum akhirnya dirampok oleh Panglima Dapan dari Lingga. Said Abas, dengan kepiawaian kata-katanya, menjadi jembatan yang membebaskan para awak kapal tersebut melalui negosiasi barter.

 

Tak hanya itu, jejak heroik Said Abas kembali terukir saat ia menjadi penyelamat awak kapal Merimon yang terjebak di Terumbu Karang Alceste. Dari cengkeraman perampok, ia kembali membuktikan dirinya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

 

Menurut Javasche Courant edisi 18 Oktober 1851, Said Abas bin Ali Al Athas menghabiskan hari-harinya di Kampung Goenong, sebuah desa pribumi di Pulau Lepar. Keberadaannya di sana mengukuhkan bahwa ia adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat lokal, menyemai nilai-nilai keislaman dan membangun jembatan perdagangan. (MJ001)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.