Jeritan Sungai Koba: Ketika Malam Menjadi Selimut Penjarahan dan Hukum Bak Kucing-kucingan

oleh -852 Dilihat
oleh
banner 468x60

BANGKA TENGAH, BERITAFAKTA.COM – Malam-malam kelam di Kobak, Bangka Tengah, kini diselimuti bisikan gemuruh. Bukan lagi suara alam, melainkan raungan mesin-mesin tambang ilegal yang semakin merajalela. Sasaran mereka kali ini, bak serigala lapar, adalah Delineasi Aliran Sungai (DAS) di kawasan bekas PT Kobatin. Pagar pembatas sungai dan lahan PT Kobatin pun tak luput dari kebrutalan mereka, roboh diterjang nafsu menjarah. Jumat(27/6)

 

banner 336x280

Warga resah, bak burung gelisah di sangkarnya. Kabarnya, ada tangan-tangan tak terlihat, sosok-sosok abu-abu yang sengaja menjadikan malam sebagai panggung sandiwara mereka. Bermain di balik tirai gelap, mereka leluasa menguras perut bumi. Alur sungai yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan, kini tercekik oleh aktivitas penambangan tanpa izin ini.

 

Dugaan kuat mengarah pada koordinasi oleh F.AB dan Pendi alias Abo. Entah mantra apa yang mereka gunakan hingga mampu bergerak sebebas itu di tengah gelapnya malam. Berulang kali upaya penertiban dari aparat penegak hukum bak angin lalu, selalu bocor dan tak membuahkan hasil. Para penjarah ini lihai bermain kucing-kucingan, menghilang dan muncul kembali seolah tak tersentuh.

 

Darmawan, seorang warga Koba, menumpahkan kekesalannya kepada media ini.

 

“Aktivitas mereka sudah sekian lama, tapi setiap kali ada penindakan atau penertiban selalu bocor dan mereka bisa bermain kucing-kucingan,” ujarnya, nadanya sarat kekecewaan.

 

Masyarakat kecil, yang seharusnya menjadi pemilik sah kekayaan alam ini, justru terjerumus menjadi budak. Mereka dipaksa mengais rezeki dari hasil penjarahan timah di wilayah PT Kobatin yang semestinya dijaga. Harapan kini menggantung di ujung tanduk.

 

Akankah suara jeritan sungai Kobak didengar? Ataukah malam akan terus menjadi selimut bagi aksi penjarahan yang kian memilukan ini?. (MJ001)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.