Tadjaubelah: Saksi Bisu Api Perlawanan Depati Amir yang Tak Pernah Padam

oleh -1189 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Di jantung Bangka, terhampar sebuah medan laga yang sunyi, Tadjaubelah, di mana bumi pernah bergetar hebat diselimuti jeritan perih dan gema semangat juang. Lokasi ini, laksana cermin waktu, merefleksikan pertempuran paling sengit dan terbesar antara putra-putri Bangka di bawah panji Depati Amir, melawan tangan-tangan besi penjajah Belanda.

 

banner 336x280

Tadjaubelah, yang kini hanya menyisakan bisikan angin dan rerimbunan daun, adalah jantung strategis yang terletak di antara Kampung Lukok di Timur Laut dan Kampung Titi Medang di Barat Laut, serta berpagar Kampung Titi Puak di Barat Daya dan Kampung Petaling di Tenggara. Di sinilah, pada rentang tahun 1848-1851 Masehi, api perlawanan rakyat Bangka berkobar hebat, membakar asa kemerdekaan yang telah lama terbelenggu.

 

Menurut Dato Akhmad Elvian, DPMP, seorang sejarawan dan budayawan Babel, pertempuran di Tadjaubelah adalah puncak drama epik perlawanan Depati Amir. Pasukan Depati Amir yang bersembunyi laksana bayangan di markas Tampui dan Moendar, tiba-tiba menjadi buruan empuk yang dikepung ketat oleh pasukan Belanda. Mereka datang dari sarang-sarang militer di Bakam, Tiangtara, Ampang, dan Pangkalmancung, bagaikan gelombang pasang yang siap menelan.

 

Pangkalpinang, menjadi tembok penghadang, menunggu pasukan Depati Amir di Tadjaubelah. Tak hanya itu, dari Kampung Layang, pasukan Belanda lainnya menjadi jaring penangkap di sekitar Kampung Mabed, seolah penjaga gerbang neraka, mencegah pasukan Depati Amir meloloskan diri ke daerah Bakoong, Cempurak, Mendara/Menareh, Lukok, Kimak, dan Depak.

 

Terjepit dari berbagai penjuru, pasukan Depati Amir, bagaikan burung yang mencari langit, bergerak cepat ke selatan, menuju Tadjaubelah. Mereka bergabung dengan kekuatan di Moendar, menerobos Tanabawa, hingga akhirnya meledaklah kontak senjata yang mencabik-cabik ketenangan. Pertempuran sengit pun tak terhindarkan, menyisakan luka menganga dan tumbal darah di kedua belah pihak.

 

Namun, takdir kadang berpihak pada yang kuat, dan kekurangan persenjataan serta amunisi membuat pasukan Depati Amir terpaksa mundur teratur, bagaikan ombak yang surut. Mereka menyingkir ke Depak, mencari perlindungan dan bergabung dengan pasukan lain di bawah pimpinan Awang.

 

Pertempuran heroik ini juga menyisakan kisah pilu tentang pengorbanan. Sang panglima perang, Bujang Enggak, gugur sebagai kusuma bangsa, jasadnya menyatu dengan tanah Bangka yang dicintainya. Tak hanya itu, panglima perang Dahan, harus merelakan bagian tubuhnya, tangannya putus, menjadi bukti bisu keganasan pertempuran.

 

Nama Tadjaubelah sendiri, menyimpan jejak masa lalu yang unik. Berasal dari “tajau yang belah”, tajau adalah tempayan atau tempat air besar dari tanah liat, seolah tempayan raksasa yang terbelah, menjadi simbol perpecahan dan luka yang ditinggalkan pertempuran ini. Hingga kini, Tadjaubelah tetap berselimut misteri, menunggu kisahnya diangkat kembali agar tak lekang oleh zaman. (MJ001)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.