Prof Udin Rencanakan Tua Tunu Jadi Pusat Konservasi Buaya

oleh -757 Dilihat
oleh
banner 468x60

Pangkalpinang, Berita-Fakta — Wali Kota Pangkalpinang Saparudin, yang akrab disapa Prof. Udin, memiliki visi besar menyelamatkan kawasan utara kota di Tua Tunu. Area yang disebutnya sebagai satu-satunya wilayah asli tersisa di kota berjuluk “Pampinan” ini, diwacanakan menjadi pusat konservasi sekaligus destinasi wisata alam berbasis habitat asli.

Dalam keterangannya kepada tirto.id, Prof. Udin mengungkap bahwa sungai di Tua Tunu merupakan habitat alami buaya, bahkan menjadi lokasi eksodus predator tersebut dari luar wilayah. Fakta ini pernah dibuktikan oleh tim Net Geo Wild yang merekam video habitat buaya di lokasi tersebut. “Saya sudah mimpi kawasan itu (Tua Tunu). Itu akan jadi kawasan untuk wisata. Ternyata di dalam itu, buaya itu, satu bangkang itu, eksodusnya di situ,” ujar Prof. Udin.

banner 336x280

Menurut Prof. Udin, buaya-buaya yang terpisah dari kelompoknya memasuki Tua Tunu untuk mencari perlindungan karena gangguan habitat asal. Kawasan ini masih sangat alami dengan sumber makanan melimpah bagi satwa liar.  Untuk mempertahankan keaslian, Wali Kota menolak segala bentuk pembangunan yang mengganggu. “Kalau ditanya ke saya, saya enggak mau diubah. Itu adalah satu kawasan hutan penyangga,” tegasnya.

Guna menjamin kelestarian bagi generasi mendatang, Prof. Udin berencana mengajukan lahan sepanjang 100 meter di kiri-kanan sungai sebagai kawasan konservasi resmi. Status ini diharapkan memungkinkan Pemerintah Pusat mengawasi dan menindak pembangunan liar yang kerap terjadi. “Kalau dia sudah kawasan konservasi, area itu, maka itu menjadi wewenang pemerintah pusat untuk mengawasinya. Sehingga keasliannya masih ada, kota-kota binang itu,” jelasnya.

Visi Prof. Udin meluas hingga pengajuan 60 hektare hutan Tua Tunu sebagai Taman Safari. Ide ini muncul pasca mengikuti acara di BRIN beberapa tahun lalu, di mana pertemuan G20 merekomendasikan setiap provinsi memiliki taman safari untuk melestarikan spesies endemik. “Taman safari itu utamanya untuk melestarikan habitat hewan tumbuhan endemik di daerah itu. Nah, kita akan jadikan itu kawasan taman safari,” ungkapnya.

Di Taman Safari ini, wisata hanya melalui jalur tertentu sehingga pengunjung dapat menyaksikan ekosistem alami tanpa mengganggu satwa liar. Prof. Udin juga menyoroti masalah pembangunan perumahan di kawasan rendah (pulang) yang memicu banjir. Ia mencatat lebih dari 250 perumahan dibangun sejak 2014 tanpa memperhatikan elevasi. “Kita ini kan sudah terlanjur pulang. Pulang itu dibangunlah perumahan di pulang itu. Umumannya apa? Banjir itulah,” katanya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.