PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Dalam upaya membentengi generasi muda dari paham radikalisme sekaligus menyongsong visi Indonesia Emas 2045, para penyuluh lintas agama yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Pangkalpinang menggelar sosialisasi Moderasi Beragama di SMK Sore Bisnis Sainstech Muhammadiyah Pangkalpinang, Kamis (12/03).
Kegiatan ini merupakan langkah konkret implementasi program Asta Protas Kementerian Agama RI, yang bertujuan menanamkan nilai-nilai toleransi dan kerukunan sejak dini di lingkungan pendidikan. Hadir sebagai narasumber utama adalah tiga penyuluh lintas agama: Yohanes Bosco Otto, Neng Ilma Aprilyanti, dan Sugeng.
Penyuluh Agama Islam, Neng Ilma Aprilyanti, dalam paparannya menekankan bahwa moderasi beragama sering kali disalahartikan. Ia menegaskan bahwa moderasi bukanlah upaya untuk mencampuradukkan ajaran agama (sinkretisme), melainkan cara pandang dalam beragama secara moderat.
“Semua agama pada hakikatnya menolak segala bentuk kekerasan. Kita harus sangat berhati-hati dalam berucap, sebab kekerasan fisik mungkin bisa diobati, namun luka akibat perkataan sering kali membekas seumur hidup di hati sesama,” ujar Ilma.
Lebih lanjut, ia membedah moderasi beragama melalui perspektif Islam dengan merujuk pada sembilan nilai moderasi, yang mencakup prinsip tawasuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), hingga syura (musyawarah).
Senada dengan hal tersebut, Sugeng memaparkan materi moderasi dari sudut pandang Kristiani. Ia mengajak para siswa untuk menjadi pribadi yang membawa berkat bagi lingkungan sekitar tanpa memandang latar belakang keyakinan.
Menurutnya, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang seharusnya menyatukan bangsa. Implementasi moderasi dalam kekristenan diwujudkan melalui kasih yang inklusif, sehingga harmoni tetap terjaga dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Di sisi lain, Yohanes Bosco Otto menyoroti tantangan di era disrupsi informasi. Ia memaparkan materi mengenai kontribusi media digital dalam menyebarluaskan pesan-pesan perdamaian.
“Generasi Z adalah penghuni asli dunia digital. Oleh karena itu, media sosial harus dimanfaatkan sebagai alat untuk menyebarkan konten positif mengenai moderasi beragama, bukan justru menjadi tempat persemaian kebencian atau hoaks,” tegas Yohanes.
Kegiatan yang berlangsung interaktif ini diharapkan mampu mencetak kader muda yang memiliki nalar kritis dan sikap toleran. Dengan pemahaman moderasi yang matang, pelajar di Pangkalpinang diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam membangun harmoni di tengah keberagaman, demi mewujudkan kejayaan Indonesia pada satu abad kemerdekaannya nanti. (Imelda)









