H. Firmantasi: Moderasi Beragama Adalah Kekuatan Menuju Indonesia Emas 2045

oleh -61 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang terus masif melakukan penguatan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan pendidikan. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang, H. Firmantasi, saat memberikan sambutan dalam kegiatan pembinaan moderasi beragama di SMK Sore Pangkalpinang, Kamis (12/3/2026).

 

banner 336x280

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh Kepala SMK Sore, Karel Martin, serta sejumlah penyuluh agama lintas iman, di antaranya Yohanes Bosco Otto (Katolik), Neng Ilma (Islam), dan Sugeng (Kristen). Sebanyak 87 siswa turut hadir menyimak arahan strategis terkait masa depan kerukunan umat.

 

Dalam arahannya, H. Firmantasi mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata implementasi Asta Protas Kementerian Agama RI Tahun 2025-2029. Kemenag Kota Pangkalpinang berkomitmen membangun sinergi dengan seluruh komponen masyarakat, lembaga pemerintah, swasta, hingga institusi pendidikan formal.

 

“Kami terus membangun kerjasama melalui sosialisasi dan dialog interaktif. Sebagai instansi yang menaungi enam agama, penguatan moderasi beragama dan kerukunan adalah prioritas utama kami,” ujar Firmantasi.

 

Firmantasi menjelaskan secara lugas bahwa moderasi beragama bukanlah mendangkalkan ajaran agama, melainkan sikap beragama yang tidak ekstrem, baik “kiri” maupun “kanan”.

 

“Moderasi berarti tidak radikal. Walaupun berbeda, kita tetap satu kesatuan. Ini adalah modal kekuatan kita untuk membangun bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

 

Beliau menambahkan bahwa di era digitalisasi saat ini, segala kemudahan akses informasi harus menjadi pelecut bagi generasi muda untuk maju, bukan sebaliknya.

 

Di hadapan puluhan siswa, H. Firmantasi menitipkan empat ciri utama semangat moderasi yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

 

– Cinta Tanah Air: Memiliki komitmen kebangsaan yang kuat.

 

– Toleransi: Menghargai perbedaan keyakinan.

 

– Anti Kekerasan: Mengedepankan dialog dalam penyelesaian masalah.

 

– Akomodatif: Terbuka terhadap kekayaan budaya lokal.

 

Mengakhiri sambutannya, beliau berpesan agar para siswa bijak dalam bermedia sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu negatif yang berpotensi memecah belah persatuan. Para siswa diharapkan mampu menjadi aktor perawat kerukunan di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal masing-masing. (Gema)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.