BANGKA, BERITA-FAKTA.COM – Sungguh sebuah pemandangan yang “menakjubkan” di ujung Muara Jelitik, Sungailiat. Alih-alih melihat kapal nelayan melenggang bebas, mata kita justru dimanjakan oleh ratusan Ponton Isap Produksi (PIP) yang berjejer rapi seolah sedang melakukan pengabdian luhur bagi kelancaran alur pelayaran. Minggu, (17/05/2026), masyarakat dan tim SMSI Bangka menyaksikan langsung betapa “giatnya” aktivitas pertambangan ini yang diklaim sebagai upaya mengatasi pendangkalan.
Logika publik kembali diuji dengan sebuah inovasi luar biasa di lokasi ini. Kabarnya, aktivitas hampir 200 unit ponton ini dilakukan untuk mengeruk alur yang dangkal. Namun, ada sedikit keunikan yang menggelitik: hanya pasir timahnya yang dibawa pulang, sementara pasir sisa (tailing) dikembalikan dengan kasih sayang ke dasar muara.
Tentu saja ini adalah strategi yang cerdas. Bagaimana mungkin alur pelayaran bisa dalam jika sisa galian dibuang kembali ke tempat semula? Mungkin tujuannya bukan untuk memperdalam alur, melainkan untuk memastikan proyek ini abadi karena pendangkalan tak akan pernah usai.
Berdasarkan investigasi lapangan, “kedermawanan” para pemilik ponton diuji setiap minggunya. Mereka diwajibkan menyetor uang sebesar Rp500.000 per minggu kepada oknum Pengawas Tambang (Wastam). Jika dikalikan dengan 200 unit ponton, ada aliran dana segar sebesar Rp100 juta per minggu yang entah masuk ke kantong siapa.
Katanya, uang itu untuk membiayai penggalian alur. Namun, nelayan setempat hanya bisa mengelus dada karena dampak positifnya masih menjadi “misteri ilahi”.
Di tengah kerumunan ponton yang izinnya masih “remang-remang” alias abu-abu, tampak sosok oknum Satgas Trisakti yang seolah memiliki kekuasaan mutlak. Kehadirannya di lokasi bukannya membuat pelaku tambang ilegal gemetar, melainkan justru terkesan memberi perlindungan yang hangat.
Apakah hukum di Muara Jelitik memang sedang tertidur pulas, ataukah “uang koordinasi” tersebut sudah cukup untuk membeli sebuah kenyamanan?
Saat Tim SMSI Bangka mencoba meminta klarifikasi kepada Wendi, salah satu Wastam Laut yang disebut-sebut mengelola setoran tersebut, yang bersangkutan tampaknya sedang “puasa bicara”. Hingga berita ini diterbitkan, pesan singkat melalui WhatsApp tidak kunjung mendapat balasan.
Masyarakat kini hanya bisa bertanya: Apakah Muara Jelitik akan benar-benar dikeruk untuk kepentingan nelayan, atau hanya sekadar menjadi “sapi perah” bagi oknum-oknum yang haus akan pasir timah dan uang setoran? Kita tunggu saja sampai muara ini benar-benar tertutup oleh tumpukan tailing yang konon katanya adalah “pengerukan alur”. (4WD)









