Benang Kusut “Kursi Panas” DMI Pangkalpinang: Antara Ladang Jariyah atau Ambisi Tak Bertepi?

oleh -837 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Langit organisasi Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Kota Pangkal Kemenangan kini tengah mendung. Aroma persaingan merebut “kursi panas” kepemimpinan kian menyengat, menciptakan riak-riak kegaduhan yang seolah tak kunjung usai. Sengketa antara Pengurus Wilayah (PW) DMI Babel dan jajaran Pengurus Cabang (PC) di tingkat kecamatan kini memasuki babak baru yang penuh tanya.

 

banner 336x280

Di tengah penolakan keras dari berbagai Pengurus Cabang (PC) Kecamatan seperti Bukit Intan, Taman Sari, Pangkalbalam, Girimaya dan Rangkui yang menyatakan dukungan penuh pada hasil MUSDA ke-4 (14 Februari 2026), pihak PW DMI justru bersiap menabuh genderang Musyawarah Daerah Luar Biasa (MUSDALUB).

 

Polemik ini ibarat “api dalam sekam”. Di satu sisi, Lima PC Kecamatan telah melayangkan surat pernyataan sikap yang tegas. Mereka menolak penunjukan Caretaker dan rencana Musda ulang karena dinilai menciderai kedaulatan demokrasi yang telah disepakati bersama. Bagi mereka, hasil MUSDA ke-4 adalah amanah suci yang tidak boleh dikhianati oleh kepentingan sepihak.

 

Namun, di sisi lain, kepemimpinan PW DMI yang dikomandoi oleh Ustaz H. Rasyid Ridho tetap melaju kencang. Rencana MUSDALUB telah dipatok pada 24 Mei 2026 di Gedung OR Kantor Walikota Pangkalpinang. Sosok Ustaz H. Maulana pun telah didapuk sebagai Ketua Caretaker untuk menakhodai proses transisi ini.

 

Publik kini mulai bertanya-tanya: Ada apa sebenarnya di balik kegigihan menggelar Musda ulang ini? Apakah ini murni upaya perbaikan organisasi demi kemaslahatan umat, ataukah ada “magnet” kekuasaan yang terlalu manis untuk dilepaskan?

 

Fenomena penggalangan dana untuk operasional MUSDALUB pun menjadi sorotan. Dalam edarannya, panitia mengajak para pengurus untuk berkontribusi secara finansial. Meski narasi yang dibangun adalah sebagai “amal jariyah dan tabungan akhirat”, namun di tengah penolakan akar rumput (PC Kecamatan), langkah ini justru memicu spekulasi liar. Apakah masjid masih menjadi ladang pengabdian yang tulus, ataukah mulai bergeser menjadi arena mencari keuntungan materi?

 

DMI seharusnya menjadi payung yang meneduhkan, tempat di mana persatuan umat dirajut. Jika sengketa ini terus berlarut-larut tanpa dialog yang mendinginkan suasana, dikhawatirkan marwah organisasi akan luruh.

 

Kini, bola panas ada di tangan para pemangku kebijakan. Akankah MUSDALUB pada 24 Mei mendatang menjadi solusi yang mempersatukan, atau justru menjadi paku terakhir yang mengunci perpecahan di tubuh DMI Kota Pangkalpinang?

 

Warga Pangkalpinang hanya bisa berharap agar rumah besar para pengelola masjid ini kembali pada khittahnya: menjadi taman-taman surga di bumi, jauh dari intrik politik dan nafsu kekuasaan. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.