PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Gedung Pertemuan OR Pemkot Pangkalpinang mendadak menjadi saksi bisu betapa “efektifnya” sebuah demokrasi jika sudah diskenariokan. Pada Minggu (24/05/2026), Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pangkalpinang digelar dengan sebuah drama yang lebih rapi daripada jadwal salat lima waktu.
Sungguh luar biasa dedikasi para tokoh agama kita kali ini. Salah satu pengurus PW DMI Bangka Belitung, Ustadz Maulana, dengan sangat “bijaksana” mengingatkan bahwa seluruh nasib Musda ada di tangan pimpinan sidang. Beliau menegaskan kegiatan ini harus tuntas sebelum jam 12.00 siang.
Alasannya pun sangat sakral: harus makan siang, salat, dan pulang. Rupanya, urusan masa depan pengelolaan masjid di ibu kota provinsi ini kalah penting dibanding urusan perut yang keroncongan. Siapa pun yang keberatan atau ingin berlama-lama berdiskusi, dipersilakan mundur dengan hormat. Sebuah bentuk “ketegasan” yang lebih mirip pengusiran secara halus.
Sementara itu, pimpinan sidang yang akrab disapa Sobri, mempertontonkan gaya kepemimpinan yang sangat “memukau”. Beliau duduk di kursi pimpinan namun seolah-olah mengenakan penutup telinga saat pengurus tingkat kecamatan (PC) mencoba melemparkan kritik.
Kritikan dari bawah dianggap angin lalu, sementara instruksi dari atas dianggap wahyu. Terlihat jelas ada kesan “main mata” antara pihak DPW DMI Bangka Belitung dengan pimpinan sidang untuk memuluskan jalan bagi kandidat tertentu.
Hasilnya? Sesuai dugaan para peramal politik kelas teri, Ustadz Rudiyanto terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DMI Kota Pangkalpinang. Hebatnya, pemilihan ini tetap sah di mata mereka meski tanpa kehadiran pengurus lama dan diwarnai gelombang penolakan.
Seolah-olah, DMI Kota Pangkalpinang baru lahir dari rahim bumi hari ini, menghapus sejarah kepengurusan sebelumnya demi sebuah awal yang baru atau mungkin demi kepentingan yang baru.
Inilah potret kejanggalan para tokoh yang menyandang gelar ulama, ustadz, hingga kyai. Di atas mimbar mereka bicara lembut tentang keadilan, namun dalam agenda organisasi, mereka tampil begitu “bengis” dan merasa paling benar sendiri.
Aturan organisasi (AD/ART) mungkin sempat mampir di meja rapat, namun akhirnya tersingkir oleh nafsu kekuasaan yang dibungkus rapi dengan doa-doa.
“Masjid adalah tempat suci, namun jalan menuju kursinya ternyata bisa sangat kotor.”
Musda telah usai. Ustadz Rudiyanto sudah di atas tahta. Selamat menikmati hidangan makan siang yang lebih penting daripada mendengar suara jemaah dari akar rumput. (4WD)









