Awan Mendung Selimuti Musda DMI Pangkalpinang: “Gugatan Lantang dari Balik Mimbar”

oleh -1127 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pangkalpinang yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi suci, justru memicu ombak protes. Minggu,(24/5) ruang Pertemuan OR Pemkot Pangkalpinang

 

banner 336x280

Sejumlah Pengurus Cabang (PC) dari tingkat kecamatan melontarkan penolakan keras, menuding perhelatan tersebut menabrak koridor aturan organisasi atau AD/ART.

 

 

Suasana ruang rapat seketika berubah gerah saat Bendahara PC DMI Kecamatan Bukit Intan, Agustiar, melayangkan interupsi tajam. Ia mengibaratkan Musda kali ini seperti “membangun rumah tanpa fondasi yang jelas.”

 

Fokus utama penolakan tersebut tertuju pada absennya pengurus lama dalam agenda pertanggungjawaban. Menurut Agustiar, sebuah estafet kepemimpinan tidak boleh dilakukan dengan memutus rantai informasi dari kepengurusan sebelumnya.

 

“Ini ada apa? Jangan-jangan Musda ini bukan Musda yang semestinya, tidak sesuai AD/ART. Jangan sampai wadah suci ini dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi,” ujar Agustiar dengan nada tegas.

 

 

Agustiar mempertanyakan keabsahan prosedur yang dijalankan. Baginya, Musda adalah momen sakral untuk menimbang raport kepengurusan lama sebelum menentukan nakhoda baru. Beberapa poin krusial yang menjadi batu sandungan antara lain.

 

Tidak hadirnya pengurus periode sebelumnya dianggap sebagai bentuk pengangkangan terhadap transparansi. Tanpa laporan pertanggungjawaban yang sah, pemilihan ketua baru dianggap “lahir prematur”. Muncul kekhawatiran bahwa forum ini lebih mirip pembentukan organisasi baru dari nol daripada sebuah Musyawarah Daerah.

 

Meskipun suasana memanas, para pengurus tingkat kecamatan menegaskan bahwa mereka tidak mempermasalahkan siapa yang akan memimpin, melainkan bagaimana cara ia terpilih. Mereka menuntut agar aturan organisasi ditegakkan setegak alif.

 

“Kami di PC tidak mempersoalkan siapa yang jadi. Tapi kami ingin taat aturan, kembali ke AD/ART. Hadirkan pengurus lama, itu baru namanya fair. Jika tidak ada pengurus lama, ini namanya pembentukan dari nol, bukan Musda,” tambah Agustiar mengakhiri interupsinya.

 

Hingga berita ini diturunkan, riak-riak penolakan masih mewarnai jalannya koordinasi DMI di Kota Beribu Senyuman. Para peserta mendesak agar panitia kembali menoleh ke belakang sebelum melangkah jauh ke depan, demi menjaga marwah organisasi masjid yang bersih dan berwibawa. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.