7 Makam Jepang di Kerkhof Pangkalpinang: Jejak Sejarah dan Pendudukan ‘Jepun’ di Pulau Bangka

oleh -158 Dilihat
oleh
banner 468x60

Pangkalpinang, Berita-Fakta — Tujuh makam Jepang di Kerkhof Pangkalpinang menyimpan jejak sejarah kehadiran warga Jepang di Pulau Bangka.

Jejak sejarah kehadiran warga Jepang di Pulau Bangka tersebut diketahui sejak era Restorasi Meiji pada 1868.

banner 336x280

Menurut sejarawan dan budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato Akhmad Elvian, DPMP, migrasi warga Jepang, khususnya perempuan yang dikenal sebagai Karayukisan, ke Pulau Bangka terjadi sebelum pendudukan Jepang pada Perang Dunia II.

Para perempuan ini umumnya menikah dengan pria Eropa dan dimakamkan di Kerkhof Pangkalpinang.

7 Makam Jepang di Pemakaman Kerkhof Pangkalpinang

Tercatat, setidaknya terdapat tujuh makam dengan batu nisan yang masih dapat dibaca. Makam tersebut meliputi:
– Matsumoto Shikino, usia 40 tahun, berasal dari Nagasaki, Kuchinotsu.

– Horie Kata, meninggal 18 November 1927, lahir di Nagasaki, Uragami Sewaki.

– Miyazaki Sei, usia 41 tahun, meninggal 24 Mei 1933, dari Nagasaki.

– Kaminokumi Mizue, usia 25 tahun, meninggal 16 Oktober 1922.

– Hamazaki Hana, usia 49 tahun, meninggal 16 April 1929, dari Kumamoto.

– Miyazaki Chiku, meninggal 10 Agustus 1910, lahir di Isahaya Hayami, Nagasaki.

– Nagase Tanayo, meninggal 23 Maret 1914.

Selain itu, tiga makam lainnya tidak dapat diidentifikasi karena batu nisannya sudah tidak terbaca.

 

Pendudukan Jepang di Pulau Bangka

Pada 17 Februari 1942, Pulau Bangka diduduki oleh pasukan Jepang dari Bala Tentara XXV yang berkedudukan di Shonanto (Singapura) dengan kekuatan 800 personel.

Bukti penting pendudukan ini tercatat pada renovasi dua makam di Kerkhof Pangkalpinang pada Juli 1943.

Makam Miyazaki Chiku dipugar oleh tentara Jepang bernama Tetsumi.

Sementara makam Hamazaki Hana diperbaiki oleh Hamazaki Kikue Sueko, yang kemungkinan masih memiliki hubungan keluarga dengan almarhum.

Renovasi makam ini menjadi bukti interaksi budaya dan penghormatan terhadap leluhur selama masa pendudukan Jepang di Pangkalpinang.

Situs Kerkhof Pangkalpinang kini menjadi saksi bisu sejarah migrasi dan pendudukan Jepang di Pulau Bangka, yang patut dilestarikan sebagai warisan budaya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.