Jejak Apostolik di Tanah Bangka: Makam Mgr. Vitus Bouma, SSCC di Pangkalpinang

oleh -150 Dilihat
oleh
banner 468x60

Pangkalpinang, Berita-Fakta — Kompleks Pemakaman Bruderan dekat Gereja St. Bernadeth, Pangkalpinang, menjadi saksi sejarah perjuangan misionaris Katolik, salah satunya makam Mgr. Vitus Bouma, SSCC.

Menurut sejarawan dan budayawan Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, makam ini menyimpan kisah perjuangan Prefek Apostolik Bangka Belitung dan Kepulauan Riau pada 1928–1945.

banner 336x280

Pada keramik hitam makam Mgr. Vitus Bouma tertulis: “Mgr. Vitus Bouma, SSCC, Nisi Dominus Aedificaverit (Mzm 127:1), Prefek Apostolik Bangka Belitung & Kepri (1928-1945), Bapak Pendiri KKS.”

Frasa Latin Nisi Dominus Aedificaverit berarti “Kecuali Tuhan yang membangun,” bagian dari Mazmur 127.

Tulisan “KKS” merujuk pada Kongregasi Suster Dina Keluarga Suci.

Pada marmer putih di atas salib makam, tertulis: “Mgr. Vitus Bouma, Geb. 6-12-1892, Gest. 19-4-1945, R.I.P,” menandakan ia lahir pada 6 Desember 1892 di Oude Mirdum, Belanda, dan wafat pada 19 April 1945 di Belalau, Lubuk Linggau.

Perjalanan Misi Mgr. Vitus Bouma

Mgr. Vitus Bouma ditunjuk sebagai Prefek Apostolik Bangka dan Belitung pada 29 Mei 1928, menggantikan Mgr. Herckenrath, SSCC.

Ia memindahkan pusat kegiatan Gereja Katolik dari Sungaiselan ke Sambong, lalu ke Pangkalpinang seiring perkembangan kota ini sebagai ibu kota Keresidenan Bangka pada 3 September 1913.

Pada Oktober 1928, ia membeli tanah dekat Pasar Lodsen Pangkalpinang untuk mendirikan bangunan gereja.

Pada Mei 1931, para pastor pindah ke kapel sementara di kompleks SD Budi Mulia, yang diberkati pada 24 Mei.

Pada 1934, bruder-bruder pertama tiba, diikuti suster-suster Penyelenggaraan Ilahi pada 1938.

Dampak Perang Dunia II

Pendudukan Jepang pada 17 Februari 1942 membawa tantangan berat. Dengan 800 pasukan, Jepang menduduki Pulau Bangka.

Pada 10 April 1942, Mgr. Vitus Bouma, para imam, dan bruder berkebangsaan Belanda ditahan di kamp Pangkalpinang.

Mereka kemudian dipindahkan ke kamp Mentok pada Mei 1944, lalu ke Belalau, Lubuk Linggau pada Maret 1945.

Mgr. Vitus Bouma wafat di kamp tahanan Belalau pada 19 April 1945.

Dari 11 misionaris yang ditahan, hanya tiga yang selamat, dan dari 15 bruder Budi Mulia, hanya delapan yang bertahan hingga pembebasan.

Warisan dan Pemakaman Ulang

Pada awal 1950, tulang belulang para misionaris yang wafat di kamp tahanan dikumpulkan dan dimakamkan ulang di Kompleks Bruderan dekat Gereja St. Bernadeth, Pangkalpinang.

Makam Mgr. Vitus Bouma menjadi simbol perjuangan misionaris Katolik di Bangka Belitung, yang terus dikenang hingga kini.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.