Tak Puas di Kelas, Siswa SMKN 3 Pangkalpinang ‘Cegat’ Penyuluh Kemenag: Bagaimana Jauhi Pergaulan Bebas?

oleh -369 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Terbatasnya durasi materi di dalam ruangan rupanya tak menyurutkan rasa ingin tahu yang besar dari para peserta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMK Negeri 3 Pangkalpinang. Menolak pasrah pada keterbatasan waktu, salah seorang siswa baru, M. Artha Dillah, nekat menghampiri Penyuluh Lintas Agama Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, Farid Okta Firdaus, sesaat setelah sesi materi formal usai, Kamis (16/07).

 

banner 336x280

Aksi jemput bola ini dilakukan Artha di luar ruangan kelas demi menuntaskan rasa penasarannya yang mengganjal terkait materi Moderasi Beragama yang baru saja dipaparkan.

 

Riuh rendah suasana istirahat siang itu tidak menghalangi langkah Artha untuk mendekati sang penyuluh. Remaja yang akrab disapa Artha ini mengaku materi yang disampaikan di dalam kelas sangat memicu pemikirannya, namun sesi tanya jawab yang disediakan panitia terpaksa dibatasi karena ketatnya jadwal rundown MPLS.

 

Melihat antusiasme dan keseriusan yang terpancar dari wajah siswa barunya tersebut, Farid Okta Firdaus langsung menyambut hangat. Di sudut halaman sekolah, ruang diskusi informal yang cair namun berbobot pun mendadak tercipta.

 

Pertanyaan yang dilontarkan Artha pun tidak main-main. Di tengah gempuran modernisasi, ia merefleksikan kegelisahan nyata yang dihadapi generasinya saat ini.

 

“Bagaimana cara kita sebagai remaja untuk tetap menjaga diri dan membentengi akhlak di tengah pola pergaulan yang sekarang dirasa semakin bebas dan tanpa batas?” tanya Artha antusias.

 

Mendengar pertanyaan kritis tersebut, Farid Okta langsung memberikan jawaban dengan lugas, taktis, dan tepat sasaran. Ia menjelaskan bahwa Moderasi Beragama bukan sekadar teori toleransi antarumat manusia, melainkan juga fondasi internal untuk mengontrol diri (self-control) dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dalam wejangan singkatnya di luar ruangan tersebut, Farid memberikan jawaban taktis dengan menekankan pentingnya menjadikan agama sebagai kompas internal. Menurutnya, pemahaman agama yang moderat dan kuat akan berfungsi sebagai benteng otomatis dalam diri remaja. Ketika dihadapkan pada pilihan pergaulan yang melanggar norma, prinsip keagamaan inilah yang secara spontan memberikan sinyal batasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilewati.

 

Selain penguatan dari dalam diri, Farid juga mengingatkan Artha untuk lebih selektif dalam memilih lingkungan pertemanan selama menempuh pendidikan di SMK. Tanpa bermaksud mengotak-ngotakkan teman, ia menegaskan bahwa lingkaran sosial memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, mencari sahabat yang saling mendukung dalam kebaikan menjadi langkah preventif paling ampuh agar tidak mudah terseret arus negatif pergaulan bebas.

 

Diskusi spontan ini menjadi bukti nyata bahwa materi yang dibawa oleh jajaran Kemenag Kota Pangkalpinang berhasil menyentuh pemikiran para siswa. Fenomena seperti yang ditunjukkan oleh Artha menumbuhkan harapan besar bahwa generasi baru SMKN 3 Pangkalpinang tidak hanya kritis dalam berpikir, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga nilai-nilai moral di era digital. (Imelda)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.