Suara Bergetar Pril Marori di Podium Apel: Ajak ASN Kemenag Babel Ukir Legacy dan Rawat Keikhlasan

oleh -1004 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Angin pagi yang berembus di halaman Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Senin (08/06/2026) terasa berbeda dari biasanya. Langkah kaki para pegawai yang berbaris rapi menuju lapangan apel tampak lebih senyap. Ada keheningan yang tak biasa, sebuah ruang kosong yang ditinggalkan oleh tawa dan sapaan yang kini berganti menjadi kenangan. Pelaksanaan apel pagi kali ini berlangsung dengan penuh khidmat, namun diselimuti atmosfer kedukaan yang begitu tebal dan menyentuh sanubari.

 

banner 336x280

Berdiri di podium sebagai pembina apel, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kanwil Kemenag Babel, H. Pril Marori, menatap barisan pegawainya dengan pandangan teduh namun sarat kesedihan.

 

Di hadapan barisan yang membisu, ia memulai amanatnya dengan mengakui adanya gumpalan rasa kehilangan yang mendalam. Dalam sepekan terakhir, keluarga besar Kemenag Babel harus mengikhlaskan kepergian dua putra terbaiknya sekaligus: almarhum Sugiyo (Pembimbing Masyarakat Konghucu) dan almarhum Herawan Eka Yunizar (Ketua Tim Barang Milik Negara/BMN).

 

“Atmosfer kehilangan sangat terasa hari ini, sebab rekan-rekan tersebut sudah sekian lama bersama dengan kita, ada di tengah-tengah kita,” ujar Pril Marori, suaranya sempat bergetar menahan gejolak emosi di dada.

 

Pandangan mata sebagian peserta apel mulai berkaca-kaca saat Pril mengajak seluruh jajaran pegawai untuk merenungi peristiwa duka ini sebagai iktibar atau pelajaran hidup yang sangat berharga. Ia mengingatkan bahwa kematian adalah sebuah kepastian mutlak yang bergerak dalam misteri.

Ajal tidak pernah bernegosiasi dengan batasan usia, baik tua maupun muda, serta tidak pernah mengacu pada kondisi fisik seseorang, baik ia dalam keadaan sakit ataupun sehat bugar.

 

Kehilangan beruntun ini menjadi alarm keras bagi semua yang masih bernapas, sebuah pengingat sunyi bahwa tidak ada satu pun manusia yang tahu pasti kapan giliran mereka akan sampai di titik akhir garis kehidupan.

 

Namun, di tengah suasana melankolis itu, Pril tidak ingin jajarannya larut dalam kepasrahan yang melumpuhkan. Ia menegaskan dengan suara yang kembali tegap bahwa kedukaan ini sama sekali tidak boleh menyurutkan semangat kerja. Sebaliknya, kenyataan tentang kematian harus menjadi pemantik spiritual untuk terus berbuat baik dan memberikan yang terbaik selama sisa waktu masih digenggam atas izin Tuhan Yang Maha Esa.

 

Menghubungkan kedukaan tersebut dengan realitas profesi, Pril Marori menekankan bahwa esensi dari legacy atau warisan berharga yang ditinggalkan oleh seorang pegawai tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan tugas, fungsi, dan peran Kementerian Agama. Sebagai instansi yang memegang mandat negara untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama, setiap aparatur Kemenag memikul tanggung jawab moral yang besar untuk menghadirkan nilai-nilai ketuhanan, kedamaian, dan moralitas di tengah masyarakat.

 

Ia menyebut pengabdian almarhum Sugiyo dalam membimbing umat Konghucu dan almarhum Herawan Eka Yunizar yang mengawal akuntabilitas aset negara sebagai Katim BMN, adalah bukti nyata bagaimana tugas kedinasan diintegrasikan dengan pengabdian yang tulus.

 

Oleh karena itu, Pril berharap seluruh pegawai yang kini masih berdiri di lapangan apel mampu melanjutkan tongkat estafet tersebut, mencerminkan potret institusi yang melayani dengan hati.

 

Menurutnya, jika tugas dan fungsi birokrasi dijalankan dengan optimal, maka dengan sendirinya hal itu akan menjelma menjadi kenangan indah yang membekas di hati masyarakat. Kelak, saat seorang aparatur telah tiada, orang-orang akan mengenang dedikasi mereka lewat cerita tentang kebaikan, ketulusan, keramahan, serta sikap rendah hati (humble) yang melekat kuat pada postur ASN Kemenag yang religius.

 

Sebelum melangkah turun dari podium, di bawah sorotan matahari pagi yang mulai meninggi, Pril menitipkan pesan pamungkas yang sarat akan makna mendalam. Ia meminta seluruh jajaran ASN memanfaatkan sisa waktu dan kesempatan hidup yang ada dengan sebaik-baiknya untuk menguatkan peran Kemenag sebagai perekat umat.

 

Ia mengimbau agar setiap lembar tugas kedinasan tidak lagi dipandang sekadar rutinitas birokrasi administratif, melainkan dikerjakan dengan penuh keikhlasan agar bernilai ibadah di sisi Tuhan. Komitmen pelayanan publik yang terbaik, adil, dan prima harus tetap diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan latar belakang. Pril mengajak semua yang hadir untuk mendedikasikan totalitas kinerja mereka bukan demi pujian sesaat, melainkan untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, serta bangsa dan negara.

 

“Semoga kerja kita selama di Kemenag menjadi amal kebaikan ketika nanti kita berpulang,” pungkas Pril Marori. (Gema)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.