SMA Setiabudi Sungailiat Jadi Ring Tinju: Prestasi Akademik Mandek, Prestasi ‘Baku Hantam’ Jalan Terus!

oleh -1805 Dilihat
oleh
banner 468x60

SUNGAILIAT, BERITA-FAKTA.COM — Selamat datang di Kabupaten Bangka, tempat di mana sekolah tampaknya lebih sukses mencetak “petarung jalanan” ketimbang generasi berotak encer. Kasus kekerasan di sekolah kembali meledak, kali ini SMA Setiabudi Sungailiat terpilih menjadi arena “gladiator” bagi siswanya sendiri. Korban, seorang siswa kelas 10 berinisial A (15), harus mencicipi kerasnya kepalan tangan kakak kelasnya sendiri, N, tepat di jam istirahat Senin (11/5/2026).

 

banner 336x280

Pihak sekolah bertindak sangat “heroik” dengan menjatuhkan Surat Peringatan (SP) 2 kepada terduga pelaku. Humas SMA Setiabudi, Andi, dengan bangganya menyatakan bahwa pelaku tetap wajib datang ke sekolah namun tidak boleh belajar. Sungguh hukuman yang luar biasa: dilarang belajar tapi tetap boleh berkeliaran di area sekolah. Apakah ini upaya sekolah memfasilitasi waktu luang bagi sang pelaku agar bisa mencari target “latihan” berikutnya?.

 

Orang tua korban, Suherman Saleh, tampaknya tidak termakan oleh narasi “damai itu indah” versi sekolah. Ia merasa dikhianati karena sekolah mencoba menyelesaikan kasus ini tanpa melibatkan keluarga korban sejak awal.

 

“Seharusnya pihak sekolah memanggil orang tua terlebih dahulu sebelum ada upaya perdamaian,” sindir Suherman pedas. Hingga saat ini, jangankan ganti rugi, permintaan maaf dari keluarga pelaku pun masih “raib” ditelan bumi, meski kedua pihak sudah bertemu tiga kali.

 

Meski kondisi A mulai membaik setelah dirawat di RSUD Sungailiat, ia masih mengeluhkan pusing dan harus menjalani rontgen lanjutan akibat hantaman benda tumpul alias tangan manusia. Keluarga korban juga menuntut transparansi sekolah untuk memanggil siswa lain yang menonton atau mungkin ikut membantu.

 

“Yang terjadi bukan hanya penganiayaan, tapi dugaan pengeroyokan,” tegas Suherman. Rupanya, budaya “keroyokan” masih menjadi tren favorit bagi oknum siswa di Kabupaten Bangka yang tidak punya nyali untuk berhadapan satu lawan satu.

 

Kejadian berulang di Kabupaten Bangka ini memicu pertanyaan sarkastik. Ada apa dengan sistem pendidikan di sini? Apakah kurikulum bela diri lebih dominan daripada literasi? Jika kekerasan dianggap “hal biasa” dan diselesaikan hanya dengan selembar kertas SP, maka jangan heran jika kedepannya gedung sekolah lebih mirip kamp pelatihan preman daripada tempat menuntut ilmu.

 

Kasus ini kini telah resmi mendarat di meja Polres Bangka. Publik menunggu, apakah hukum akan bertaring, atau kembali tumpul di hadapan dalih “masih di bawah umur”? (SMSI BANGKA).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.