BANGKA, BERITA-FAKTA.COM – Ibarat pepatah “Air susu dibalas air tuba,” niat tulus untuk membenahi fasilitas publik di Pantai SMSI (Pantai Bio), Pulau Tiga, justru berbuah tindakan anarkis. Sebuah fasilitas sumur (perigi) yang baru saja diperbaiki dan ditutup untuk menjaga higienitas air baku, ditemukan dalam kondisi rusak parah akibat ulah oknum tak bertanggung jawab.
Kekecewaan mendalam menyelimuti pengelola Pantai SMSI dan pemilik lahan, Erzan. Sumur yang sedianya dipersiapkan sebagai jantung air bersih untuk kebutuhan produksi gula kelapa, air wudhu mushola, dan fasilitas MCK, kini tak lagi bisa digunakan.
Oknum yang mengaku sebagai nelayan diduga menjadi dalang di balik perusakan ini. Mereka berdalih tidak terima atas penutupan bibir sumur tersebut. Padahal, penutupan dilakukan demi menjamin kualitas air agar tetap bersih dan tidak berbau busuk (anyer) saat digunakan wisatawan maupun jamaah mushola.
“Kami sangat menyayangkan aksi ini. Sumur yang sudah kami kuras dan bersihkan, justru dimasuki tumpukan semen dan kayu-kayu. Ini tindakan yang tidak mencerminkan etika dan adab orang Melayu Bangka Belitung,” ujar Ketua SMSI Bangka, Ahmad Wahyudi, dengan nada getir.
Masalah perusakan ini hanyalah puncak gunung es dari benang kusut klaim lahan. Di saat Pantai Bio mulai bersolek dan ramai dikunjungi berkat polesan SMSI Bangka, muncul klaim mengejutkan dari pihak Kepala Dusun Deniang yang menyebut wilayah tersebut sebagai aset desa.
Faktanya, selama bertahun-tahun pantai ini terbengkalai bak “anak tiri” yang tak terurus. Pemilik lahan, Erzan, menegaskan bahwa pohon-pohon kelapa di sepanjang pantai tersebut adalah hasil keringat dan jerih payahnya sendiri.
“Selama ini desa tidak pernah peduli dengan kebersihan, keamanan, atau ketertiban di sini. Begitu pantai ini mulai cantik dan bernilai ekonomi, tiba-tiba muncul klaim aset desa. Sungguh naif,” tambah pihak pengelola.
Pihak SMSI Bangka sebenarnya telah menyiapkan solusi bagi para nelayan. Beberapa tangki air (tedmon) telah disediakan di area pantai untuk memenuhi kebutuhan air para nelayan. Mereka hanya perlu menyiapkan selang atau pipa untuk mengalirkan air bersih tersebut tanpa harus mengganggu sumber air baku yang dikhususkan untuk fasilitas umum.
Menyikapi tindakan perusakan fasilitas ini, Ahmad Wahyudi menegaskan tidak akan tinggal diam. Pihaknya berencana melaporkan kasus perusakan ini ke pihak berwajib agar ada efek jera.
“Kami akan meminta Camat Riau Silip untuk turun tangan memediasi dan menyelesaikan permasalahan ini secara tuntas. Jangan sampai kepentingan segelintir oknum menghambat peningkatan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata,” tegas Wahyudi.
Kini, sumur yang seharusnya menjadi sumber kehidupan di Pantai Bio itu membisu, tertimbun material yang sengaja dimasukkan untuk merusak fungsinya. SMSI Bangka berharap akal sehat dan musyawarah kembali dikedepankan demi kemajuan pariwisata Kabupaten Bangka. (4WD)












