Oleh: Sejarawan Dato’ Akhmad Elvian, penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
Pangkalpinang, Berita-Fakta.com — Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak hanya menjadi tonggak sejarah di Jakarta.
Tetapi juga membawa gelombang semangat ke seluruh penjuru negeri, termasuk Pulau Bangka dan Belitung.
Kabar bersejarah ini disampaikan ke wilayah tersebut oleh dr. (H.C.) dr. H. A.K. Gani, seorang tokoh penting dari Sumatera Bagian Selatan, hanya sehari setelah proklamasi diumumkan di Jakarta.
Berita ini diterima dengan antusiasme luar biasa oleh masyarakat Bangka Belitung, khususnya kalangan pemuda, yang siap mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajah.
Penyebaran Berita Proklamasi di Bangka Belitung
Menurut catatan sejarah dalam Gunawan, dkk (2015:74-75), salah satu tokoh masyarakat di Keresidenan Bangka dan Belitung yang pertama kali menerima kabar proklamasi adalah Sulaiman.
Berita ini disambut dengan penuh sukacita oleh masyarakat setempat, terutama para pemuda yang langsung bergerak untuk menyebarkan semangat kemerdekaan.
Mereka tidak hanya menerima kabar tersebut, tetapi juga berkomitmen untuk melindungi proklamasi dari upaya represif pihak Jepang yang saat itu masih berkuasa dan diperintahkan untuk menjaga status quo di wilayah tersebut.
Selain itu, ancaman dari Belanda yang berambisi merebut kembali kekuasaan di Indonesia menjadi tantangan besar bagi para pejuang di Bangka Belitung.
Semangat kemerdekaan ini mendorong masyarakat untuk mengambil tindakan nyata.
Para pemuda di Bangka Belitung memainkan peran kunci dalam menyebarkan informasi dan memobilisasi dukungan untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.
Kegembiraan ini tidak hanya terbatas pada seruan lisan, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai bentuk simbolis yang memperkuat identitas nasional.
Maklumat Pemerintah dan Pekik “Merdeka”
Pada 31 Agustus 1945, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Maklumat Pemerintah yang menetapkan pekik “MERDEKA” sebagai Salam Nasional.
Maklumat ini, yang mulai berlaku pada 1 September 1945, ditandatangani oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Dalam maklumat tersebut, Soekarno menyatakan, “Sejak 1 September 1945 kita memekikkan pekik merdeka, dengoengkan terus pekik itoe sebagai dengoengan Djiwa yang merdeka! Djiwa merdeka yang berjoeang dan bekerja! BERJOEANG dan BEKERDJA! Buktikan itu!”
Pekik ini menjadi seruan yang menggema di seluruh Indonesia, termasuk di Pulau Bangka, dan menjadi simbol semangat perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Di Bangka Belitung, pekik “Merdeka” tidak hanya diucapkan sebagai salam nasional, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.
Salah satunya melalui penamaan tempat-tempat strategis yang sebelumnya menggunakan nama-nama kolonial Belanda.
Penamaan ini menjadi wujud simbolis dari penolakan terhadap penjajahan dan penguatan identitas nasional Indonesia.
Transformasi Nama Tempat di Bangka: Simbol Kemerdekaan
Masyarakat Bangka, khususnya di Kota Pangkalpinang, dengan cepat mengadopsi semangat “Merdeka” dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa tempat penting di kota ini diubah namanya untuk mencerminkan semangat kemerdekaan, sekaligus menghapus jejak kolonialisme Belanda.
Berikut adalah beberapa perubahan nama yang signifikan:
1. Lapangan Merdeka:
Alun-alun Selatan di Pangkalpinang, yang sebelumnya dikenal sebagai pusat kegiatan kolonial, diubah namanya menjadi Lapangan Merdeka.
Nama ini mencerminkan semangat kebebasan dan menjadi pusat berkumpulnya masyarakat untuk merayakan kemerdekaan.
2. Jalan Merdeka:
Jalan yang menghubungkan Alun-alun Selatan dengan Rumah Residen, yang sebelumnya bernama Resident Street, berganti nama menjadi Jalan Merdeka.
Perubahan ini menandakan transformasi dari simbol kolonial menjadi simbol kemerdekaan Indonesia dari masa penjajahan.
3. Tamansari dan Tugu Merdeka:
Taman yang sebelumnya dikenal sebagai Wilhelmina Park diubah menjadi Tamansari.
Di lokasi ini, masyarakat membangun Tugu Merdeka, sebuah monumen yang menjadi simbol perjuangan dan kemenangan rakyat Bangka dalam mempertahankan kemerdekaan.
Perubahan nama ini tidak hanya terjadi di Pangkalpinang, tetapi juga di kota-kota lain di Pulau Bangka, seperti Mentok di Bangka Barat dan Toboali di Bangka Selatan.
Penamaan dengan kata “Merdeka” ini memiliki makna mendalam, sebagaimana dijelaskan oleh sejarawan Dato’ Akhmad Elvian (2014:152-153).
Menurutnya, Pangkalpinang sebagai “Pangkal Kemenangan” menjadi simpul penting dalam perjuangan kemerdekaan dan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nama-nama ini tidak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga simbol kebanggaan dan identitas nasional dari perjuangan bangsa.
Makna Historis dan Warisan Kemerdekaan
Penamaan tempat dengan kata “Merdeka” di Bangka mencerminkan semangat kolektif masyarakat dalam menyambut kemerdekaan.
Kota Pangkalpinang, sebagai ibu kota Provinsi Bangka Belitung, memainkan peran strategis sebagai pusat perjuangan di wilayah tersebut.
Lapangan Merdeka, Jalan Merdeka, dan Tugu Merdeka hingga kini tetap menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Bangka dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semangat ini terus hidup dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menyambut Dirgahayu Republik Indonesia ke-80 pada 17 Agustus 2025, masyarakat Bangka Belitung diajak untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan.
Pekik “Merdeka” yang menggema pada 1945 tetap relevan sebagai pengingat akan pentingnya menjaga persatuan dan semangat juang untuk kemajuan bangsa.












