PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Ruang Pertemuan OR Kota Pangkalpinang yang seharusnya menjadi saksi bisu kesejukan musyawarah para ulama, mendadak berubah menjadi medan laga penuh bara. Minggu (24/5), Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pangkalpinang justru mempertontonkan drama yang jauh dari cermin kesalehan.
Bukannya menghasilkan mufakat yang teduh, Musda kali ini justru diwarnai hujan interupsi dan badai adu argumen. Awak media yang hadir dibuat terperangah saat melihat para tokoh agama, ustad, dan ulama yang biasanya menebar kedamaian di atas mimbar, kini saling “hantam” kata-kata hingga keluar tantangan duel di luar forum.
Pemandangan ini bak petir di siang bolong bagi masyarakat. Etika dan budaya Islam yang mengedepankan kelembutan seolah luntur, digantikan oleh ego dan arogansi kekuasaan demi kursi nomor satu di DMI Pangkalpinang.
Ketegangan memuncak saat Pengurus Wilayah (PW) DMI Bangka Belitung dinilai menunjukkan sikap tangan besi terhadap Pengurus Kecamatan (PC). Alih-alih merangkul, oknum pengurus senior terkesan melakukan intimidasi yang menyulut api kemarahan para pengurus tingkat bawah.
“Ini bukan lagi musyawarah, tapi ajang adu urat leher. Kami melihat adab yang diajarkan Rasulullah SAW seolah terbang entah ke mana hanya karena aturan tata tertib yang dianggap menyimpang dari AD/ART,” bisik salah satu peserta yang kecewa.
Poin-poin panas yang memicu kericuhan di antaranya
Pengurus DMI Kota Pangkalpinang periode sebelumnya kabarnya sengaja “dibuang” dan tidak diundang demi kepentingan segelintir pihak. PC mengklaim mekanisme Musda menabrak aturan dasar organisasi. PW DMI Babel menantang PC untuk tunduk pada aturan yang diklaim telah mendapat restu dari DPP DMI Pusat, sebuah sikap yang dinilai mengunci ruang demokrasi.
Provinsi Bangka Belitung, khususnya Kota Pangkalpinang, dikenal dengan filosofi Melayu yang santun dan menjunjung tinggi kehormatan. Namun, insiden “saling hajar” argumen hingga tantangan fisik ini telah menyayat hati masyarakat umum yang menyaksikan.
Sangat ironis ketika organisasi yang memegang mandat untuk “Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid” justru mempertontonkan syahwat politik praktis. Para tokoh yang seharusnya menjadi pelita di tengah kegelapan justru terjebak dalam perebutan pengaruh yang memalukan.
Hingga berita ini diturunkan, suasana masih menyisakan abu panas. Masyarakat berharap para ulama kembali ke khitahnya, meletakkan ego di bawah sajadah, dan menyelesaikan sengketa dengan hati yang jernih. Sebab, masjid adalah rumah Allah, bukan panggung untuk memuaskan nafsu kekuasaan. (4WD)











