PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Bagaikan burung phoenix yang bangkit dari abu, PT Timah Tbk (TINS) kini menapaki jalan baru, menjadikannya mercusuar harapan setelah badai korupsi Rp271 triliun mengguncang fondasi negeri.
Melalui ajang “MediaMIND 2025,” perusahaan ini berikrar untuk “Menambang Potensi, Menggerakkan Ekonomi,” bukan hanya bagi Bangka Belitung, tetapi juga bagi seluruh Indonesia.
Di tengah hiruk pikuk acara yang dihadiri para jurnalis pada Selasa (26/8), Anggi Budiman Sihaan, Humas PT Timah, menjelaskan perjalanan epik perusahaan pelat merah tersebut. Ia mengawali pemaparannya dengan kilas balik sejarah, dari tiga perusahaan Belanda—GMB, SITEM, dan GMB di Belitung—yang dinasionalisasi pada tahun 60-an menjadi PN TIMAH, hingga kini berstatus Tbk dan menjadi bagian dari Holding BUMN Industri Pertambangan Indonesia MIND ID.
Namun, ironi bagaikan duri dalam daging. Di balik jubah BUMN yang gagah, PT Timah harus berhadapan dengan kenyataan pahit, produksinya masih tertinggal jauh dari perusahaan swasta, meskipun mereka memiliki Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) terbesar di Bangka Belitung dan Kepulauan Riau.
“Di sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya PT Timah sebagai representasi negara untuk pertambangan timah juga layak untuk kita cermati dan kita dukung bersama, karena di ujungnya pendapatan dari PT Timah Tbk tetap akan masuk ke negara yang menjadi kontribusi,” ujar Anggi.
Dalam pemaparannya, Anggi memaparkan enam pilar komitmen keberlanjutan perusahaan yang menjadi roh dari visi dan misi PT Timah. Pilar ini selaras dengan tujuan ekonomi dan operasional, seolah menjadi penawar luka dari kasus mega korupsi yang sempat membuat citra perusahaan terpuruk.
Salah satu fokus utama yang ditekankan adalah reklamasi pascatambang, baik di darat maupun laut. Sejak 2015, perusahaan telah mereklamasi 92.162 hektare lahan dengan biaya fantastis, mencapai Rp195 miliar. Anggi menunjukkan foto-foto ‘sebelum dan sesudah’ yang memperlihatkan transformasi lahan-lahan bekas tambang menjadi kawasan hijau yang subur.
Di sisi lain, Anggi juga menyinggung tentang program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang terus digulirkan. Mulai dari pendidikan, keagamaan, hingga kepemudaan, semua menjadi bukti bahwa PT Timah tidak hanya menambang mineral, tetapi juga menanamkan kebaikan bagi masyarakat.
Di balik narasi optimisme, ada pertanyaan besar yang mengganjal, bagaikan awan mendung di tengah hari cerah. Mengapa hilirisasi timah, yang seharusnya menjadi ujung tombak industri, justru seolah jalan di tempat?
Pabrik tin solder PT Timah justru berdiri jauh di Cilegon, sementara pabrik swasta lebih memilih Batam. Jarak ini, bagaikan jurang pemisah, menimbulkan pertanyaan tentang komitmen perusahaan untuk membangun industri di tanah kelahiran timah itu sendiri.
Di akhir sesi, Anggi membuka ruang diskusi, mengajak para jurnalis untuk mengupas tuntas dinamika PT Timah. Ia mengakui, banyak variabel yang memengaruhi naik turunnya produksi, tetapi keyakinannya tetap teguh, PT Timah akan terus berbenah dan menjadi penopang ekonomi bangsa.
Dengan slogan yang menggetarkan, “Menambang Potensi, Menggerakkan Ekonomi,” PT Timah berusaha membuka lembaran baru, melunturkan citra buruk yang melekat akibat badai korupsi. Kini, mata publik dan pemerintah tertuju pada langkah-langkah nyata mereka. Mampukah PT Timah benar-benar menjadi mercusuar, atau hanya sekadar fatamorgana di gurun janji?. (MJ001)











