Penulis: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, Sejarawan Bangka Belitung dan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
Pangkalpinang, BERITA-FAKTA.com — Catatan Vol. K. Van Emmerik, seorang prajurit Sekutu dari 5th Company III (7) Battalion Regiment Stoottroepen, mengungkap situasi tegang di Pangkalpinang, Bangka Belitung, saat pertempuran melawan pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) pada Februari 1946.
Dalam catatannya berjudul Landing on Bangka, From Muntok to Pangkalpinang, Van Emmerik menceritakan pengalaman pasukan Sekutu dan NICA menghadapi perlawanan sengit TRI di Kilometer 12 (versi Belanda: Kilometer 11).
Menurut Van Emmerik, pertempuran tersebut menyebabkan korban di kedua belah pihak.
“Kami tergeletak di pinggir jalan, berlindung di balik truk pasukan dengan kelelahan luar biasa. Rumor korban di pihak kami ternyata bukan isapan jempol. Kami melihat pembawa tandu mengangkat seorang sahabat, Limburgers, tewas dengan luka mengerikan,” tulisnya.
Korban lain juga terlihat tergeletak di balik truk.
Saat mendekati Kota Pangkalpinang, Van Emmerik mencatat Bendera Merah Putih berkibar di mana-mana, disertai spanduk-spanduk yang menandakan keberadaan pemerintahan Indonesia.
Ia menggambarkan Pangkalpinang sebagai kota kaya dengan bangunan bergaya Eropa.
Pasukan Sekutu bermarkas di bekas rumah dinas perusahaan tambang timah (BTW) yang megah. Namun, situasi tetap tegang.
“Kami harus waspada setiap detik. Sepuluh hari pertama, kami bahkan tak bisa ganti baju. Istirahat malam adalah kemewahan,” ungkapnya, seraya menyebut tugas jaga siang-malam yang melelahkan.
Catatan ini memberikan gambaran nyata tentang ketegangan pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, saat pasukan Sekutu dan NICA berhadapan dengan perlawanan TRI.
Rintangan kayu di Jalan Raya Muntok-Pangkalpinang, yang dibuat TRI dan masyarakat untuk menghambat laju pasukan Sekutu, menjadi salah satu bukti perlawanan sengit pada 14 Februari 1946.
Dirgahayu Republik Indonesia: 17 Agustus 1945–17 Agustus 2025.












