BANGKA BARAT, BERITA-FAKTA.COM — Bak menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Peribahasa ini tampaknya sedang menggambarkan pusaran rumor yang menyeret nama besar bos timah lokal, Iwan Boncel alias Rendi alias IB. Meski lidahnya dengan tangkas menepis kepemilikan ponton selam merah putih yang sempat diamankan aparat, kehadiran dirinya di Pantai Sawah justru menjadi blunder yang mengundang sejuta tanya.
Pada Minggu (21/06/2026) sore sekitar pukul 15.00 WIB, cakrawala Pantai Sawah menjadi saksi bisu. Langkah kaki IB tertangkap kamera sedang berdiri tegak, memandangi dengan seksama para pekerja yang tengah sibuk merehab sebuah ponton bercat merah putih mencolok. Di atas lambungnya, terukir nama “Rendi”.
Kehadiran sang bos di lokasi tersebut sontak memantik bara kecurigaan publik. Jika benar ponton itu bukan miliknya, mengapa kaki melangkah ke sana? Mengapa mata mengawasi begitu lekat?
“Itu bang, saya kirim foto bos IB pakai baju putih sedang melihat anak buahnya merehab ponton miliknya. Kalau bukan ponton milik dia, kenapa bos IB datang mantau orang rehab ponton-nya? Masa cuma lihat saja. Tidak masuk akal kan, bang?” ujar seorang sumber di lokasi sembari menyodorkan bukti visual kepada tim media, Minggu (21/06/2026).
Sebelumnya, dalam rilis klarifikasi yang dimuat dimedia onlin, Iwan Boncel memasang dinding pertahanan yang kokoh. Ia melontarkan bantahan keras terkait pemberitaan yang mengaitkan namanya dengan ponton selam yang sempat disita oleh aparat penegak hukum.
Bagi IB, kabar burung yang berembus di media sosial dan media massa tak lebih dari sekadar fatamorgana yang jauh dari realitas.
“Saya membantah pemberitaan yang menyebut nama saya terkait persoalan tersebut. Itu semua tidak benar. Saya pastikan informasi yang beredar itu tidak sesuai fakta,” tegas Iwan Boncel, mencoba memotong jalur spekulasi.
Namun, sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Nyanyian sumbang dari pesisir justru berkata sebaliknya. Melalui sambungan telepon di nomor +62 8×3-7x7x-x9xx, seorang warga Mentok yang tinggal di wilayah pesisir membongkar apa yang selama ini tersimpan di balik tirai sunyi.
“Tidak salah lagi bos, itu ponton punya bos IB. Kami ini warga Mentok dan tinggal di daerah pesisir ini, jadi semua kejadian kami tahu. Selama ini kami diam, bos, tapi sekarang kami tidak mau diam lagi karena tidak ada hasilnya juga buat kami,” ungkap sumber yang meminta identitasnya dikunci rapat-rapat demi keamanan.
Sumber tersebut bahkan membuka kotak pandora yang lebih mengejutkan terkait status hukum ponton tersebut.
“Ponton bos IB ini ditangkap sama-sama dengan dua ponton Anita Peradong/Pragon, bersama satu mobil dan barang bukti 3 karung timah dari Keranggan. Hebat berarti bos IB ini, bisa mengeluarkan ponton dari Polair. Padahal ponton itu hasil razia gabungan Polres Bangka Barat, Satpolair Polres Bangka Barat, dan Polsek Muntok pada 24 Mei lalu,” cecarnya retoris.
Ironi di atas besi ponton kian menganga. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa ponton merah putih tersebut seharusnya sudah “dibongkar” oleh pihak Polairud Bangka Barat pasca-razia gabungan akhir Mei lalu. Namun kenyataannya, fisik ponton tersebut masih berdiri anggun, mulus hingga 85 persen, dan kini malah mendapat sentuhan perbaikan.
Misteri lolosnya ponton milik IB dari jerat hukum bak benang kusut yang harus segera diurai. Publik kini menaruh harapan besar pada pundak Polda Bangka Belitung (Babel) untuk segera melakukan penyelidikan (lidik) mendalam.
Apakah hukum di Bangka Barat tajam ke bawah namun tumpul ke atas? Ataukah ada “tangan tak terlihat” yang sanggup meloloskan barang bukti dari balik jeruji hukum? Publik menanti ketegasan Korps Bhayangkara. (4WD)









