Nama : Doni Candra
Prodi : KSDA
Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Setiap kali kita mendiskusikan tentang kesehatan, fokus utama sering kali tertuju pada makanan yang kita konsumsi: apakah sayuran itu segar, apakah nutrisi yang terkandung seimbang, atau apakah bahan-bahan yang digunakan bebas dari zat kimia. Namun, satu aspek penting sering kali terabaikan. Makanan yang berkualitas serta penuh dengan nutrisi tidak berasal dari dapur, toko bahan makanan, atau bahkan jenis benih yang ditanam, melainkan berakar pada kesehatan mikrobioma tanah yang terletak jauh di bawah kaki kita. Dalam penelitian mengenai tanah, kita tidak dapat memandang tanah hanya sebagai media mat yang mendukung pertumbuhan atau sebagai “wadah” untuk akar tanaman. Sebaliknya, tanah adalah ekosistem hidup yang sangat kompleks. Dalam satu genggam tanah yang sehat, ada miliaran mikroorganisme—sepert bakteri, jamur, aktnomiset, dan protozoa—yang membentuk jaringan mikrobioma tanah.
Mikrobioma ini berfungsi sepert sistem pencernaan untuk tanaman. Tanaman tdak dapat dengan mudah menyerap nutrisi dari tanah. Justru, ada peran bakteri dan fungi mikoriza yang memecah bahan organik, mendekomposisi mineral keras, dan mengubah nutrisi seperti nitrogen, fosfor, dan kalium menjadi bentuk yang dapat diserap oleh akar. Tanpa mikrobioma yang aktf dan beragam, tanaman akan mengalami kekurangan meski ditanam di tanah yang kaya akan pupuk sintets.
Prinsip Ilmu Tanah mengindikasikan bahwa kesehatan tanah dan kandungan gizi tanaman sangat berkaitan dengan keanekaragaman hayatnya. Merusak mikrobioma tanah sama artinya dengan menurunkan kualitas gizi makanan yang kita makan.
Sayangnya, metode pertanian modern yang berbasis pengekploitasian berisiko merusak keberlanjutan mikroorganisme penting ini: Penggunaan Pupuk Kimia Berlebihan dan Pestisida: Aplikasi bahan kimia yang terus menerus meningkatkan salinitas dan keasaman tanah, menghilangkan variasi mikroba yang menguntungkan dan menciptakan populasi tanah yang steril.
Pengolahan Tanah yang Berlebihan: Pembajakan yang berlebihan merusak struktur tanah dan menghancurkan jaringan hifa jamur mikoriza yang memerlukan waktu lama untuk tumbuh.
Kehilangan Bahan Organik: Tanpa adanya kompos atau pupuk hijau, mikrobioma tanah kekurangan sumber nutrisi yang esensial untuk kelangsungan hidupnya.
Dampak dari praktik ini jelas terlihat pada makanan kita. Banyak penelitan menunjukkan penurunan kadar mikroelemen sepert seng, besi, dan magnesium pada hasil pertanian intensif dalam beberapa dekade terakhir. Tanaman yang tumbuh di tanah yang tidak hidup secara biologis cenderung kurang tahan terhadap hama, sehingga lebih banyak membutuhkan Pestisida sintetis—yang pada akhirnya meninggalkan residu pada makanan kita.
Mengembalikan Kehidupan ke Dalam Tanah Jika kita ingin memastikan masa depan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat, saatnya untuk mengubah pola pikir dalam pertanian dari sekadar “memberi makan tanaman” menjadi “memberi makan tanah”.
Restorasi Bahan Organik: Penggunaan kompos, pupuk kandang, dan mulsa organik harus menjadi prioritas untuk menyediakan karbon yang diperlukan sebagai energi bagi mikrobioma tanah.
Praktik Pertanian Regeneratf: Menerapkan rotasi tanaman, penanaman tanaman penutup, dan meminimalkan pengolahan tanah untuk menjaga habitat mikroba tetap utuh.
Efsiensi dan Pengurangan Penggunaan Bahan Kimia: Mengurangi ketergantungan pada bahan sintets dan mulai menggunakan pupuk alami berbasis konsorsium mikrobioma lokal.
Menjaga kualitas makanan bukanlah tugas yang dapat dilakukan setengah-setengah hanya di atas meja. Kesehatan kita sebagai individu sangat tergantung pada kesehatan ekosistem tanah. Dengan merawat dan menghidupkan kembali mikrobioma tanah, kita tidak hanya menyelamatkan kesuburan planet ini, tetapi juga memastikan bahwa setiap suapan makanan yang kita ambil membawa kehidupan dan nutrisi yang sejati. (***)











