Menguak Tirai Waktu, Makam Tua Saksi Bisu Kisah Cinta dan Notaris Legendaris

oleh -424 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Di antara nistanya makam-makam Belanda dan Jepang yang bersemayam di Kerkhof Pangkalpinang, Jalan Hormen Maddati, terselip sebuah permata tersembunyi, sebuah pusara yang menggenggam erat kisah lampau. Dari sekitar seratus lebih nisan yang menjadi saksi bisu, satu makam memancarkan aura keunikan dan usia purba, seolah membisikkan rahasia di tengah keheningan abadi. Dato’ Akhmad Elvian DPMP, Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, membentangkan tabir misteri di balik kompleks makam yang baru difungsikan sejak kepindahan ibukota Keresidenan Bangka en Onderh. ke Pangkalpinang pada 3 September 1913.

 

banner 336x280

Makam Irene Mathilde Ehrencron, begitulah nama yang terukir, menjulang agung dengan desainnya yang agak besar dan berpenutup, membedakannya dari jajaran nisan lainnya. Seolah menarik perhatian mata sang penjelajah waktu, jirat makam ini mengukir tinta sejarah dalam bahasa Belanda: “Hier Rust Vrouwe Irene Mathilde Ehrencron gehefde echtgenoote van L.L.H.R. Scipio Blume Geb. 28 Januari 1883, Overl. 10 Maart 1928”. Terjemahan sederhananya mengungkapkan rasa duka: “Di Sini Bersemayam Lady Irene Mathilde Ehrencron, meninggalnya istri dari L. L.H.R. Scipio Blume, Lahir 28 Januari 1883, Meninggal 10 Maret 1928.” Sementara di bagian bawah jirat, untaian kata penuh haru “rust zacht lieve doode!” menghantar perpisahan: “beristirahatlah dengan tenang almarhumah!”

 

Menjelajahi jejak sang suami, L.L.H.R. Scipio Blume, melalui labirin arsip surat menyurat, terkuaklah bahwa ia bukanlah sosok sembarangan. Namanya terpatri sebagai notaris terkemuka di kancah hukum Indonesia, khususnya di Pangkalpinang. Lodewijk Leonardus Hubertus Richard Scipio Blume, nama lengkapnya, melayani di bawah naungan pemerintahan Residen Fraser (1923-1925 Masehi) dan Residen J.E. Edie (17 Mei 1925 – 3 Mei 1928). Di hadapan notaris berintegritas inilah NV. MEBY (Maatschappij tot Exploitatie van Bioscopen en Ys fabrieken) lahir dari rahim hukum, dengan akta notaris No. 11 tanggal 24 Januari 1924 LN No. 44 tanggal 28 Maret 1924. Para tokoh sentral di baliknya adalah Oen Kheng Boe (1870-1934 Masehi) dengan 20 helai saham, Oen Goan Hoei (1892-1932 Masehi) dengan 40 helai saham, Lay Djit Siong (1886-1963 Masehi) dengan 40 helai saham, dan Tan Eng Siang (1897-1942 Masehi) dengan 20 helai saham.

 

NV. MEBY, sebagai raksasa hiburan kala itu, membentangkan sayapnya dengan membangun dan mengelola berbagai bioskop di Pangkalpinang, sebut saja bioskop Surya (Aurora), bioskop Garuda, dan bioskop Banteng (Hebe). Tak hanya itu, geliat bisnisnya juga merambah ke pabrik es NV. MEBY di Kacang Pedang dan Restoran Kutub Utara (noordpool), yang strategis terletak di antara Bioskop Surya dan Pasar Mambo. Cengkeraman bisnisnya tak berhenti di Pangkalpinang, beberapa bioskop di pulau Bangka, seperti di Muntok, Belinyu, dan Toboali, juga menjadi saksi bisu kegemilangannya. Lebih jauh lagi, jejak sejarah mengungkap bahwa pembangunan Kerkeraad Der Protestansche Gemeente to Pangkalpinang pada tahun 1927, yang kini kita kenal sebagai GPIB Maranatha Pangkalpinang, berdiri kokoh di atas tanah yang aktenya dibuat oleh tangan Notaris L.L.H.R Scipio Blume. (MJ001)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.