Bangka, Berita-Fakta – Antrean mengular di SPBU Bangka dan Pangkalpinang selama dua hari terakhir memicu panic buying dan keresahan masyarakat. Bahkan terlihat saat jam berangkat maupun pulang kerja banyak pengendara yang kehabisan bensin pada Selasa (18/11/2025).
Kehabisan bensin bagi para pengendara motor ini bukan tanpa sebab, ternyata ada alasannya. Antrian yang panjang di beberapa stasiun serta tingginya harga eceran BBM seperti POM Mini menjadi penyebab utama para pengendara motor mogok.
Hal ini memuat banyaknya laporan masuk ke Gubernur Babel Hidayat Arsani dan Bupati Bangka Fery Insani yang belum genap satu tahun. Tuduhan serta tudingan dari pemerintah daerah dianggap saling lempar tangan terkait permasalahan tersebut.
Lantas hal inilah, siapa yang menjadi biang kerok dalam antrean panjang di beberapa SPBU dua Kabupaten/Kota di Bangka Belitung? Simak Selengkapnya.
Pertamina: “Sudah Tambah Kuota 13%, Bukan Salah Kami”
Pertamina menyebut faktor cuaca dan lonjakan demand, namun sumber internal pelayaran dan fakta lapangan menunjukkan penyebab utama adalah penimbunan BBM subsidi untuk kebutuhan tambang timah ilegal.
Area Manager Communication Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, dalam rilis tertulis (18/11/2025) menyatakan Penyaluran JBKP (biosolar & pertalite) di Bangka naik 13% dari rata-rata bulanan, Beberapa SPBU diperintahkan buka 24 jam, dan Penyebab antrean: cuaca buruk dan lonjakan konsumsi.
Namun, petugas kapal tangki rute Sumbagsel yang dihubungi Berita-Fakta (17/11) membantah keras atas dalih tersebut. “Tak ada kendala cuaca. Muatan satu kapal untuk stok Pulau Bangka aman, bahkan mungkin pendistribusian mobilnya saja” tegasnya.
Sedangkan dari informasi petugas SPBU di Parit Padang kedatangan mobil tangki sedikit mengalami keterlambatan. Mobil tangki ukuran 16 ton liter berbahan bakar bensin tiba pukul 15.45 WIB. “Emang sedikit sore sih bang, sudah dua hari ini datangnya agak sore. Kalau biasanya sebelum tutup SPBU nya sudah datang mobilnya untuk kebutuhan besok” ungkapnya.
Polda Sudah Gerebek, Masih Ada 10 Gudang Lain
Pada Sabtu dini hari (15/11), Polda Babel menggerebek gudang di Belinyu, sita 42 ton BBM subsidi milik PT Bangka Perkasa Energy dan Lima tersangka diamankan.
Sumber terpercaya Berita-Fakta menyebutkan, masih ada 10 titik gudang penimbunan aktif di Bangka: yakni 5 titik Belinyu, 1 titik Riau Silip, 1 titik Bakam, 3 titik Sungailiat dan 1 titik Merawang.
Estimasi dari Tambang Timah “Menelan” Ratusan Ton BBM Subsidi per Hari
Berikut estimasi konsumsi BBM subsidi di satu lokasi tambang timah (daratan & ponton laut):
– Mesin robin (bensin) konsumsi per hari 10 liter/mesin maka dibutuhkan 1 ton jika ada 100 unit/lokasi
– Ponton baik darat maupun laut konsumsi per hari 50 liter/mesin dibutuhkan 5 ton bensin jika ada
– Excavator kecil dalam lima unit membutuhkan 120–200 liter solar/hari
– Excavator besar dalam lima unit membutuhkan 400–800 liter solar/hari hingga 1–2 ton solar
Total satu lokasi tambang: ±6 ton BBM subsidi/hari Jika ada 100 lokasi aktif di Bangka maka ada 600 ton/hari atau 18.000 ton/bulan. Kuota biosolar dan pertalite resmi Bangka per bulan hanya sekitar 15.000–17.000 ton. Artinya, tambang timah ilegal menyerap lebih dari seluruh kuota resmi.
Kesimpulan
1. BBM subsidi dari SPBU dan gudang ilegal langsung mengalir ke tambang timah (kecil hingga ponton besar).
2. Antrean di SPBU bukan karena cuaca atau demand wajar, tapi karena subsidi dirampok untuk aktivitas ilegal.
3. Penindakan satu gudang saja tidak cukup, masih ada 10 titik lain yang terus beroperasi.
Masyarakat Bangka yang lelah mengantri selama dua hari ini kini bertanya: Kapankah penegak hukum akan gerebek 10 gudang sisanya dan hentikan aliran BBM subsidi ke tambang ilegal?












