PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Ratusan siswa baru SMK Negeri 3 Pangkalpinang diajak melakukan “revolusi mental” sejak hari pertama sekolah. Tidak hanya diajarkan aturan akademis, sebanyak 288 siswa baru dari berbagai jurusan justru ditantang untuk menjadi penjaga kedamaian sosial sekaligus penyelamat bumi dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Kamis (16/07).
Langkah progresif ini diinisiasi oleh jajaran Penyuluh Lintas Agama Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, yang hadir membekali para siswa dengan dua isu krusial abad ke-21: kerukunan beragama dan kelestarian lingkungan.
Penyuluh Agama Islam, Farid Okta Firdaus, membuka sesi dengan membedah urgensi Moderasi Beragama. Di hadapan ratusan siswa yang baru memasuki fase remaja akhir ini, Farid menekankan bahwa perbedaan latar belakang etnis maupun agama di lingkungan sekolah bukanlah sekat, melainkan kekayaan yang harus dijaga bersama. Moderasi beragama disajikan sebagai kunci utama untuk menangkal radikalisme dan intoleransi sejak dini di lingkungan pendidikan.
Isu lingkungan mendapatkan porsi besar melalui pendekatan Ekoteologi—sebuah konsep yang mengawinkan nilai spiritualitas dengan pelestarian alam.
Gusti Ayu Komang Tribuana, Penyuluh Agama Hindu, menyentak kesadaran para siswa dengan analogi yang sederhana namun mendalam:
“Setiap hari Tuhan memberikan kita oksigen secara gratis tanpa pernah menuntut bayaran. Maka, menjaga bumi dan lingkungan sekitar adalah cara paling nyata bagi kita untuk berterima kasih kepada Sang Pencipta.”
Konsep teologis tersebut langsung diterjemahkan ke dalam aksi nyata oleh Yohanes Bosco Otto, Penyuluh Agama Katolik. Melalui gerakan “Pangkalpinang Asri Bebas dari Sampah”, Yohanes secara detail memaparkan jenis-jenis sampah yang kerap mencemari lingkungan sekolah dan mengajarkan cara pemilahannya. Ia juga menyelipkan pesan moral yang kuat agar para siswa membuang jauh-jauh rasa minder.
“Jangan pernah gengsi untuk mengurusi sampah. Justru gengsi itu harusnya diletakkan pada perilaku membuang sampah sembarangan,” tegas Yohanes di hadapan para peserta yang tampak antusias.
Di era modern, gerakan sosial tidak akan masif tanpa peran teknologi. Menutup rangkaian materi, Neng Ilma Aprilyanti, Penyuluh Agama Islam lainnya, mengupas tuntas peran Media Digital dalam Penyebarluasan Nilai Moderasi Beragama dan Ekoteologi.
Neng Ilma mengajak generasi z yang mendominasi SMKN 3 Pangkalpinang ini untuk tidak sekadar menjadi konsumen konten pasif. Sebaliknya, mereka didorong memanfaatkan gawai mereka untuk mengampanyekan toleransi serta aksi penyelamatan lingkungan ke jejaring sosial masing-masing.
Tak hanya para pemateri, kegiatan ini juga didukung dan dihadiri oleh para penyuluh agama lainnya yang tergabung dalam IPARI Pangkalpinang yaitu: Abdul Manaf, Heri Anggara, Sugiman, Heriyanto, dan Nitra Narulita.
Melalui kolaborasi lintas iman ini, pihak SMKN 3 Pangkalpinang bersama Kemenag Kota Pangkalpinang berharap para siswa baru tidak hanya siap secara kompetensi keahlian jurusan, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang toleran, melek digital, dan memiliki kepedulian ekologis yang tinggi. (Imelda)









