PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Badai politik acap kali menghempas, meninggalkan jejak luka dan pengkhianatan. Begitulah kiranya perjalanan Maulan Aklil (Molen) dan Zeki Yamani, dua putra terbaik yang dulu menyulam asa di partai PDI-P dan Demokrat Kota Pangkalpinang. Mereka adalah arjuna-arjuna yang telah membesarkan partainya, namun kini harus menelan pil pahit ketika mahligai kesetiaan itu runtuh, meninggalkan mereka terbuang dan terkhianati oleh tangan-tangan yang pernah mereka genggam erat.
Namun, di tengah kemarau panjang pengkhianatan, setitik embun harapan turun dari langit Gerindra Kota Pangkalpinang. Partai Gerindra, dengan hati lapang dan tangan terbuka, mengulurkan jembatan persahabatan, menawarkan secercah cahaya bagi Molen dan Zeki.
Ini bukan sekadar uluran tangan, melainkan sebuah deklarasi harmoni, sebuah janji bahwa persahabatan sejati masih bersemayam di belantara politik.
Bangun Jaya, Ketua DPC Partai Gerindra Kota Pangkalpinang, memandang Molen dan Zeki bukan hanya sebagai kader partai yang terluka, melainkan sebagai cerminan sejarah perjuangan.
“Molen dan Zeki ini adalah dua putra terbaik Pangkalpinang. Mereka adalah kader-kader yang pernah setia pada PDI-P dan Demokrat, namun ironisnya, mereka ditinggalkan dan dikhianati oleh partai mereka sendiri,” ujar Bangun Jaya, dengan nada penuh empati.
Ia menarik benang merah sejarah, menyandingkan nasib Molen dan Zeki dengan kisah perjalanan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
“Apa yang dirasakan Molen dan Zeki, hampir serupa dengan sejarah Pak Prabowo, yang pernah terbuang, terasing, dan dijauhi oleh keluarga serta elit-elit politik pada masa perjuangan membentuk partai Gerindra,” ungkap Bangun Jaya.
Kisah-kisah ini seolah menjadi pelita, menerangi jalan bahwa dari kepingan luka, bisa tumbuh kekuatan dan persatuan.
Dari semangat tulus ikhlas dan keyakinan akan persahabatan sejati, Bangun Jaya dengan bangga mengulurkan tangan. Ia tak hanya mendeklarasikan dukungan untuk Molen dan Zeki, melainkan juga menancapkan panji-panji harapan bagi Kota Pangkalpinang dalam Pilkada Ulang 2025.
Ini adalah upaya membentuk etika politik yang seringkali terkubur di balik intrik dan kepentingan sesaat. Gerindra ingin membuktikan bahwa persahabatan politik sejati itu nyata, bukan fatamorgana di gurun kekuasaan.
Para pembenci yang dulu mencaci maki Molen pada masa kejayaannya, kini berbalik arah, merapat dalam satu padu harmonisasi untuk membangun Kota Pangkalpinang. Masyarakat pun memiliki keyakinan yang mengakar kuat Molen masih layak memimpin, membawa Pangkalpinang kembali menjadi “Kota Seribu Senyuman”.
Meskipun ribuan senyuman itu kini sempat memudar, Bangun Jaya yakin, duet Molen-Zeki adalah simfoni harapan baru untuk Pangkalpinang yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih harmonis. (MJ001)














