Jeritan Pasir Padi: Pariwisata Pangkalpinang Menangis di Tengah Rongrongan Ponton Hisap

oleh -532 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Festival Pantai Pasir Padi ke-7 Kota Pangkalpinang yang seharusnya menjadi panggung kemegahan budaya dan pariwisata, justru menyingkap tabir duka yang mendalam. Di balik riuh rendah acara tahunan ini, alam seolah sedang merintih. Mata kamera dan pena awak media yang hadir tak mampu menyembunyikan rasa terkesima bukan karena takjub, melainkan karena miris melihat wajah ikon pariwisata Pangkalpinang yang kian sekarat.

 

banner 336x280

Pantai Pasir Padi yang dulu bersolek dengan air lautnya yang biru jernih, kini tampak kusam, berganti gaun cokelat pekat berselimut sedimen lumpur. Pasir Padi menangis. Ia menjerit di tengah rongrongan mesin-mesin besi pencakar perut bumi yang tanpa ampun mengeruk keuntungan pribadi, merenggut keindahan yang dulunya milik publik.

 

Jika kita menelusuri lebih jauh ke area belakang klenteng menuju kawasan Tanjung Bunga, pemandangan mencolok langsung menyapa mata. Di sana, berdiri “gagah dan berani” deretan bangunan liar berbahan triplek dan terpal hitam.

Tak hanya itu, bibir pantai kini sesak oleh armada perahu bermesin tempel dengan kapasitas besar. Namun, bisa dipastikan mereka bukanlah sahabat nelayan yang mencari ikan, melainkan perahu pengangkut para penambang dan ponton-ponton milik CV Mitra. Ironisnya, armada-armada ini diduga kuat bukan berasal dari Kota Pangkalpinang, melainkan “pasukan perang” luar daerah yang datang bertamu hanya untuk merusak rumah warga lokal.

 

“Air laut yang biru kini tinggal kenang-kenangan. Pasir yang dulu putih padat, sekarang menjelma menjadi tempat pembuangan sampah yang tak beraturan.”

 

 

Ketimpangan sosial kian terasa menyengat ketika menilik dapur pacu mesin-mesin pengisap bumi tersebut. Di saat masyarakat Pangkalpinang harus mengantre, bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang menjadi hak warga diduga kuat justru mengalir lancar ke dalam tangki-tangki mesin tambang ilegal ini. Sebuah tamparan keras di tengah jeritan ekonomi masyarakat bawah.

 

Pemerintah kota Pangkalpinang terkesan menutup mata dengan dalih administrasi bahwa aktivitas penambangan berada di luar wilayah ibukota Provinsi Bangka Belitung. Mengapa mereka amnesia pada pelajaran besar kasus korupsi timah Rp300 triliun lebih (sebelumnya disebut 271 T) yang telah merontokkan ekologi alam Babel? Apakah kerusakan ini harus menunggu kehancuran total baru disesali?

 

Kehancuran Pantai Pasir Padi seolah menjadi monumen ketidakpedulian. Masyarakat kini mulai mempertanyakan taji dan kepekaan Pemerintah Kota Pangkalpinang yang saat ini dinakhodai oleh seorang akademisi, Profesor Saparudin.

 

Apakah ini bentuk ketidakpahaman ?,Ataukah ada “kongkalikong” permainan di balik panggung adegan yang merusak alam ini?

 

Masyarakat sudah berkali-kali menyuarakan jeritan mereka. Mereka merindukan Pasir Padi yang dulu yang bersih, biru, dan nyaman untuk melepas penat bersama keluarga. Namun hingga kini, suara-suara sumbang itu seolah menguap begitu saja di telinga sang profesor yang dikenal ahli di berbagai bidang tersebut.

 

Jika pembiaran ini terus berlanjut, lambat laun satu-satunya pantai kebanggaan Pangkalpinang ini akan berubah status menjadi pantai terburuk. Pasir Padi kini tidak sedang berpesta, ia sedang menghitung hari menuju kematian ekologisnya. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.