Jaga Bumi Bersama: Pemuda Lintas Agama Pangkalpinang Bedah Ekoteologi di Kemah Toleransi

oleh -622 Dilihat
oleh
banner 468x60

BANGKA, BERITA-FAKTA.COM – Isu kerusakan lingkungan global membutuhkan aksi nyata yang masif, tak terkecuali dari komunitas berbasis agama. Bergerak atas kesadaran kolektif tersebut, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pangkalpinang menggelar diskusi mendalam bertajuk “Ekoteologi dan Kerukunan Umat Perspektif Masing-Masing Agama”. Dialog interaktif ini menjadi menu utama sekaligus ruang refleksi dalam rangkaian kegiatan Kemah Pemuda Lintas Agama yang berlangsung di Pesantren Trendi Daar El-Ihsan, Petaling, Jumat malam (19/06).

 

banner 336x280

Diskusi yang berlangsung hangat di tengah syahdunya suasana pesantren ini menghadirkan lima tokoh lintas iman dari jajaran anggota FKUB Kota Pangkalpinang sebagai narasumber utama. Mereka adalah H. Delip Atmaja yang memaparkan perspektif Islam, Lucia Lastari dari perwakilan Katolik, Runnandi Saragih dari perwakilan Kristen Protestan, I Made Suarja dari perwakilan Hindu, serta Suryanto Tjandra yang mengulasnya secara komprehensif dari sudut pandang agama Konghucu. Kehadiran para tokoh ini memberikan gambaran utuh bahwa isu lingkungan adalah keresahan bersama yang melintasi sekat-sekat dogmatis.

 

Dalam pemaparannya, para narasumber sepakat bahwa menjaga kelestarian alam (ekologi) merupakan amanah suci yang diadopsi oleh seluruh ajaran agama. Konsep ekoteologi ini menekankan bahwa spiritualitas manusia tidak boleh tercerabut dari lingkungan tempatnya berpijak.

 

Perwakilan dari umat Katolik, Lucia Lastari, menekankan pentingnya pertobatan ekologis dan memandang bumi sebagai rumah bersama yang harus dijaga. Menukil ensiklik kepausan, ia mengajak generasi muda menghentikan eksploitasi egois terhadap alam.

 

“Dalam tradisi Katolik, sebagaimana ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato si’, bumi ini adalah Common Home atau rumah kita bersama. Ekoteologi Katolik mengajarkan bahwa alam semesta adalah sakramen ciptaan Tuhan yang memancarkan kebaikan-Nya. Kita diutus bukan sebagai penguasa yang bebas merusak, melainkan sebagai penjaga dan pengelola yang bertanggung jawab. Merawat bumi berarti kita menjalankan iman yang hidup melalui pertobatan ekologis—mengubah gaya hidup konsumtif menjadi sikap hidup yang menghargai dan melestarikan lingkungan,” urai Lucia Lastari.

 

Perspektif mendalam juga diserukan oleh perwakilan umat Kristen Protestan, Runnandi Saragih. Ia dengan lugas mengingatkan para peserta tentang pentingnya kesadaran generasi muda dalam menjaga bumi serta kejujuran nurani dalam memandang perbedaan.

 

“Tuhan tidak menciptakan bumi ini dua kali, maka dari itu para generasi muda harus menjaga lingkungan. Ingat, saat Anda menyampaikan kebenaran, ada dua reaksi yang berbeda: yang bijak akan berpikir, sedangkan yang bodoh akan tersinggung. Semua agama mengajarkan hal yang baik. Berani kotor itu baik, tapi pura-pura baik itu kotor. Dan apa gunanya mata jika kita masih melihat orang lain hanya dengan menggunakan telinga?” tegas Runnandi.

 

Perspektif senada juga disampaikan oleh perwakilan umat Hindu, I Made Suarja. Ia memaparkan konsep kelestarian lingkungan melalui falsafah adiluhung yang tertanam dalam ajarannya demi mencapai keharmonisan hidup yang sejati.

 

“Dalam ajaran kami, dikenal konsep Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), yang mengatur tiga hubungan harmonis yang mutlak harus dijaga oleh manusia. Pertama adalah hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, kedua hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia, dan ketiga adalah hubungan harmonis antara manusia dengan alam sekitar,” urai I Made Suarja.

 

Sementara itu, perwakilan umat Islam, H. Delip Atmaja, menitikberatkan bahwa esensi keberagamaan seseorang harus memancar menjadi kemaslahatan bagi lingkungan sekitar. Ia mengingatkan adanya hukum sebab-akibat yang nyata antara perbuatan manusia dengan reaksi alam.

 

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk umat dan baik kepada sesama. Ajaran Islam membagi hal ini menjadi ibadah spiritual kepada Allah, serta ibadah sosial kepada manusia dan alam. Setiap hal buruk yang kita lakukan pasti akan berdampak pada diri kita sendiri. Kalau kita merusak alam, maka alam akan murka,” papar H. Delip Atmaja mengingatkan.

 

Melengkapi dialog tersebut, Suryanto Tjandra selaku perwakilan dari umat Konghucu turut menegaskan bahwa merawat bumi merupakan perwujudan nyata dari iman untuk menjaga keharmonisan semesta melalui konsep Tian, Di, Ren—yaitu keselarasan antara Tuhan, Bumi, dan Manusia. Menurutnya, manusia memiliki mandat suci untuk menjadi pemelihara alam, bukan mengeksploitasinya tanpa batas.

 

Suasana forum malam itu berjalan sangat dinamis dan interaktif. Efek pemantik dari materi-materi tajam para narasumber berhasil memicu nalar kritis para pemuda lintas agama yang menjadi peserta kemah. Mereka tampak antusias melemparkan berbagai pertanyaan strategis mengenai strategi implementasi nyata pelestarian lingkungan di lingkungan tempat ibadah hingga gerakan advokasi lingkungan yang konkret.

 

Melalui dialog lintas iman berbasis lingkungan ini, FKUB Kota Pangkalpinang menaruh harapan besar pada pundak generasi muda. Para pemuda lintas agama diharapkan tidak hanya menjadi pelopor penguatan kerukunan sosial dan perajut tenun toleransi di Bangka Belitung, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi garda terdepan dalam menjaga keasrian bumi demi keberlanjutan masa depan generasi mendatang. (Imelda)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.