PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Halaman Madrasah Ibtidaiyah Al Ihsan Pangkalpinang mendadak riuh dengan lantunan salawat dan lagu-lagu religi pada Kamis pagi (05/02/2026). Ratusan siswa dengan seragam khasnya duduk rapi, menyimak setiap rangkaian acara Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H. Bukan sekadar seremonial tahunan, acara kali ini menjadi panggung pembuktian bahwa madrasah mampu menyandingkan ketaatan spiritual dengan prestasi intelektual yang gemilang.
Hadir sebagai tamu kehormatan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, H. Firmantasi, memberikan pesan yang menyentuh esensi terdalam dari perjalanan malam Rasulullah. Beliau menekankan bahwa indikator keberhasilan pendidikan di madrasah bukan hanya terletak pada nilai di atas kertas, melainkan pada kedisiplinan beribadah.
“Esensi Isra’ Mi’raj adalah jemputan perintah salat. Melalui tema ‘Mengerjakan Shalat Tepat Waktu’, kita sedang membangun fondasi karakter. Anak yang disiplin menjaga waktu salatnya, otomatis akan disiplin dalam belajar dan menjalani kehidupannya,” ujar Firmantasi dengan nada optimis.
Beliau juga mengajak para orang tua untuk tidak ragu menitipkan masa depan anak-anak mereka di madrasah. Menurutnya, madrasah adalah investasi terbaik untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki “rem” moral berupa akhlakul karimah.
Di balik khidmatnya acara, terselip kebanggaan besar yang disampaikan oleh Kepala MI Al Ihsan, Maryana. Ia memaparkan bahwa MI Al Ihsan kini telah bertransformasi menjadi madrasah yang patut diperhitungkan. Sebanyak 19 trofi penghargaan dari tingkat kota hingga nasional berhasil diraih sepanjang tahun, mencakup bidang akademik dan non-akademik.
“Kami sangat berterima kasih atas dukungan Yayasan dan bantuan sarana dari Pemerintah Provinsi. Namun, bagi kami, guru adalah jembatan. Dari tangan guru lahir berbagai profesi, namun karakter tetap yang utama. Kami ingin melahirkan lulusan yang ikhlas beribadah dan menjadi penyejuk hati orang tua,” ungkap Maryana haru.
Momentum paling emosional terjadi saat Abdullah Abyan, siswa kelas 3 yang mungil namun penuh percaya diri, naik ke atas panggung. Sebagai Dai Cilik andalan MI Al Ihsan, Abyan mampu menghipnotis audiens lewat tausiyahnya yang lugas.
Dengan gaya retorika yang jenaka namun tajam, ia mengingatkan teman-temannya bahwa Isra’ Mi’raj adalah bukti kekuasaan Allah yang melampaui logika manusia.
“Salat adalah hadiah terindah. Jangan tunggu nanti untuk bersujud, karena maut tidak menunggu kita siap,” tegas Abyan yang disambut tepuk tangan riuh, termasuk decak kagum dari jajaran pejabat Kemenag yang hadir.
Sementara itu, Ketua Yayasan MI Al Ihsan, Rahman, dalam kesempatan yang sama juga memohon doa restu kepada masyarakat dan pemerintah terkait rencana pengembangan lahan madrasah. Mengingat jumlah siswa yang mencapai 154 orang dan prestasi yang terus meroket, perluasan fasilitas menjadi kebutuhan mendesak demi kenyamanan belajar mengajar.
Peringatan Isra’ Mi’raj ini diakhiri dengan ramah tamah dan doa bersama. Sebuah pesan kuat tersirat dari acara ini: bahwa di MI Al Ihsan, pendidikan adalah tentang menyeimbangkan antara sujud di atas sajadah dan prestasi di atas pentas dunia. (Gema)












