PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Suasana khidmat menyelimuti Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsan pada Kamis (05/02), saat ratusan siswa, guru, dan tamu undangan berkumpul untuk memperingati peristiwa agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Acara yang berlangsung di halaman madrasah ini menjadi istimewa karena menghadirkan figur dai cilik berbakat, Abdullah Abyan, yang merupakan siswa kelas 3 di madrasah tersebut.
Kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, H. Firmantasi, didampingi jajaran pejabat di lingkungan Kemenag. Kehadiran pimpinan instansi vertikal ini memberikan apresiasi tersendiri bagi pengembangan bakat spiritual siswa sejak dini.
Sebelum memulai tausiyahnya, Abdullah Abyan mencairkan suasana dengan melantunkan lagu bertema Isra’ Mi’raj. Suara jernihnya seketika menghipnotis audiens; teman-teman sejawatnya tampak menyimak dengan saksama sebelum akhirnya larut dalam nyanyian bersama yang menggugah semangat religius.
Dalam ceramahnya yang lugas namun mendalam, Abyan menekankan bahwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa transendental yang melampaui batas logika manusia.
“Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang mungkin tidak bisa diterima oleh akal pikiran yang terbatas, namun mutlak bisa diterima oleh keimanan kita yang tulus,” ujar Abyan di hadapan para hadirin.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan malam tersebut merupakan “hadiah” terindah dari Allah SWT untuk menghibur hati Rasulullah SAW yang kala itu sedang dirundung duka mendalam (Amul Huzni) akibat kehilangan orang-orang tercinta yang menjadi penyokong dakwahnya.
Lebih lanjut, Abyan menguraikan hikmah besar di balik perintah salat lima waktu yang menjadi inti dari peristiwa Mi’raj. Ia berpesan agar setiap muslim menjadikan salat sebagai instrumen utama dalam menghadapi problematika hidup.
– Manifestasi Kuasa Allah: Tidak ada yang mustahil bagi Allah jika Dia telah berkehendak (Kun Fayakun).
– Penghapus Kesedihan: Salat adalah sarana komunikasi hamba dengan Sang Pencipta untuk mengadukan segala lara.
– Puncak Kedekatan: Keadaan terdekat seorang hamba dengan Allah adalah saat ia bersujud dalam salatnya, di mana rahmat Allah tercurah sepenuhnya.
Dengan gaya retorika yang jenaka namun tajam, Abyan juga memberikan peringatan kepada teman-temannya agar tidak menunda-nunda ibadah. “Jangan tunggu nanti-nanti untuk salat, jangan sampai kita keburu mati sebelum sempat bersujud,” tegasnya.
Kepala Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang, Firmantasi, memberikan apresiasi tinggi atas keberanian dan kedalaman materi yang disampaikan oleh Abyan. Menurutnya, pemunculan dai cilik seperti ini adalah bukti keberhasilan MI Al Ihsan dalam melakukan pembinaan karakter dan mentalitas siswa.
Peringatan Isra’ Mi’raj ini diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial tahunan, melainkan momentum bagi seluruh keluarga besar MI Al Ihsan untuk memperbaiki kualitas salat sebagai fondasi utama dalam kehidupan sehari-hari. (Imelda)












