BANGKA, BERITA-FAKTA.COM – Langit Bangka seolah ikut mendidih melihat arogansi yang kembali dipertontonkan oleh pemodal. Janji manis penertiban yang awalnya diklaim hanya sementara, kini berubah menjadi arang dan abu. Insiden pembakaran kamp warga desa yang diduga dilakukan oleh oknum Satuan Pengamanan (Satpam) PT GML memicu gelombang amarah yang tak lagi bisa dibendung.
Buntut dari tindakan “tangan besi” ini, aliansi masyarakat yang bernaung di bawah bendera Lapan Desa (Delapan Desa) menabuh genderang perlawanan. Mereka bersiap menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran esok hari dengan titik tuju ke Divisi 5.
Perkara ini bermula dari instruksi penertiban yang diklaim sebatas formalitas sesaat. Masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup di lokasi tersebut diminta mengalah dan mengosongkan area. Alasannya klise: adanya kunjungan para petinggi, yakni bos CV TMR dan jajaran direksi PT GML.
Sebagai bentuk itikad baik dan kepatuhan masyarakat kecil terhadap aturan, warga pun luluh. Mereka menarik diri, mengevakuasi peralatan, dan hanya meninggalkan sakan (alat cuci timah) serta ponton di lokasi kejadian. Warga berharap, setelah para petinggi korporasi itu berlalu, mereka bisa kembali bernapas dan mencari nafkah seperti sedia kala.
Namun, kepatuhan warga justru dijawab dengan pameran kekuasaan yang brutal. Alih-alih menjaga aset warga yang ditinggalkan, pada hari ini, kamp-kamp tempat masyarakat bernaung justru hangus dilahap si jago merah. Kuat dugaan, api sengaja disulut oleh oknum Satpam PT GML yang bertugas.
Tindakan ini bukan sekadar menghancurkan terpal dan kayu, melainkan membakar habis sisa-sisa kepercayaan masyarakat terhadap korporasi. Alasan penertiban sementara nyatanya hanyalah isapan jempol belaka untuk mengusir warga secara paksa.
Kini, kesabaran warga telah mencapai titik nadir. Merasa terus disakiti dan diinjak di bawah tumit raksasa korporat, perwakilan Lapan Desa menyerukan konsolidasi akbar. Pesan berantai telah menyebar, mengundang seluruh elemen masyarakat, terkhusus rekan-rekan insan pers dan media, untuk turun ke lapangan.
“Besok kami, Lapan Desa, akan melakukan demo besar-besaran ke PT GML menuju Divisi 5. Kami mengundang rekan-rekan media untuk hadir. Rapatkan barisan, ambil video, foto, dan mari kita naikkan berita ini. Sudah terlalu kelewatan, masyarakat terus disakiti dan digencet oleh mereka yang di atas,” tegas perwakilan warga dalam seruannya, Rabu.(17/6)
Kehadiran awak media diharapkan mampu menjadi corong kebenaran, menyorot ketidakadilan agar mata hukum tidak lagi buta dan tuli terhadap penderitaan rakyat kecil. Akankah suara parau masyarakat Lapan Desa didengar, atau kembali menguap bersama asap kamp mereka yang terbakar? Pembuktiannya ada pada aksi esok hari. (4WD)










