PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Aksi solidaritas yang digelar oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pangkalpinang diwarnai insiden kurang etis. Seorang oknum dokter bernama Arif dengan gaya yang dinilai menyerupai preman mencoba menghalangi awak media dari Perkaranews.com yang tengah melakukan wawancara dengan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak (IDAI) pada Kamis (4/12/2025).
Oknum dokter yang mengaku dari IDI Bangka Belitung (Babel) tersebut, bertindak arogan dan mengacaukan proses wawancara. Insiden ini terjadi di tengah upaya rekan-rekan sejawat menyuarakan keprihatinan atas penetapan Dr. Ratna, seorang dokter spesialis anak, sebagai tersangka.
Dalam sesi wawancara yang terpotong, perwakilan Pengurus Pusat IDAI menyoroti kejanggalan dalam proses yang menyebabkan penetapan Dr. Ratna sebagai tersangka.
Poin utama keberatan IDAI adalah rekomendasi yang dikeluarkan untuk proses hukum Dr. Ratna tidak didasarkan pada persidangan yang seharusnya. Dr. Ratna tidak diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan diri, apalagi menghadirkan saksi ahli dari IDAI. Pihak Dr. Ratna tidak mengetahui isi rekomendasi tersebut secara jelas.
“Tiba-tiba saja keluar rekomendasi dan kami pun tidak tahu rekomendasinya bunyinya apa gitu. Tahu-tahu rekomendasinya diberikan ke polisi dan Dr. Ratna menjadi tersangka,” ujar perwakilan IDAI.
IDAI mempertanyakan mengapa hanya Dr. Ratna yang ditetapkan sebagai tersangka, padahal banyak dokter lain yang dipanggil dalam kasus tersebut.
IDAI menegaskan bahwa kasus ini harus diprotes keras karena dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang sangat berbahaya, yakni Defensive Medicine.
“Kalau ini seperti ini terus, apalagi di daerah-daerah yang dokter anaknya terbatas, dokter akan takut merawat pasien yang gawat. Dan yang kita takutkan adalah defensive medicine,” jelasnya.
Defensive medicine adalah praktik di mana dokter lebih mengutamakan keselamatan dirinya sendiri, sehingga cenderung menghindari pasien gawat. Hal ini sangat mengancam keselamatan anak dan masyarakat, terutama di daerah dengan keterbatasan tenaga dokter.
“Yang menyembuhkan itu hanya Allah. Dokter itu ikhtiar untuk mengobati. Dan tidak ada pernah dokter itu niat untuk membunuh pasien,” tambahnya, mengingatkan bahwa upaya pengobatan adalah ikhtiar dan bukan kontrak sembuh.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika salah satu awak media mencoba bertanya mengenai perbedaan penanganan kasus Dr. Ratna dengan kasus dokter jantung Surya yang sempat viral.
Tiba-tiba, oknum dokter bernama Arif menyela dengan nada tinggi dan melarang media mengaitkan kedua kasus tersebut.
“Saya nggak ngikutin yang kasih dokter Sur ya, tapi yang saya tahu bahwa dokter ini tidak ada sangkut paut dengan dokter Sur, jadi jangan. Anda jangan banyak menyangkutkan kasus Dr. Ratna ya, kasus Dr. Ratna ya. Saya ingatkan Anda, saya dari IDI, jangan menyangkutkan kasus Dr. Ratna dengan dokter Suria. Jangan menjauh,” bentaknya sambil mencoba mengacaukan wawancara.
Aksi arogan Dr. Arif tersebut dinilai telah mencederai etika profesi dan kebebasan pers, sekaligus menodai tujuan mulia dari aksi solidaritas yang seharusnya fokus pada perlindungan hukum dan profesi dokter anak. (4WD)











