PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Ratusan umat Buddha di Kota Pangkalpinang melebur dalam kekhidmatan kegiatan “Hening Nusantara” yang digelar secara serentak di 34 provinsi di seluruh Indonesia pada Rabu (20/5). Berpusat di Vihara Satya Dharma Pangkalpinang, kegiatan berskala nasional yang dilaksanakan secara virtual ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Vesakha Sananda 2570 BE Tahun 2026.
Hadir dalam acara tersebut Penyelenggara Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, Misno, didampingi jajaran staf Kemenag, serta tokoh agama Buddha setempat.
Ketua Pelaksana menyampaikan bahwa antusiasme umat Buddha di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat tinggi dalam menyambut kegiatan ini. Hal tersebut terlihat dari jumlah kehadiran fisik yang melampaui kuota yang ditetapkan oleh panitia pusat.
“Untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri, panitia pusat sebenarnya memberikan kuota sebanyak 115 peserta. Namun, karena antusiasme umat yang begitu tinggi, jumlah peserta yang hadir secara langsung mencapai sekitar 140 orang,” ujar Ketua Pelaksana dalam laporan pembukanya.
Acara yang dimulai tepat pukul 15.00 WIB ini diawali dengan laporan ketua pelaksana dan sambutan dari Pembimas Buddha Bangka Belitung. Selanjutnya, seluruh peserta bergabung secara virtual dengan prosesi terpusat di tingkat nasional untuk mendengarkan lantunan Kitab Suci Dhammapada, serta menyimak sambutan dari Dirjen Bimas Buddha dan Menteri Agama Republik Indonesia.
Memasuki sesi inti, umat Buddha yang hadir secara saksama menyimak Dhammadesana (ceramah agama) yang disampaikan oleh Bhante Pannawaro. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya mengendalikan pikiran sebagai fondasi utama dalam membangun kedamaian dunia.
Bhante Pannawaro juga mengutip kalimat monumental dari pembukaan konstitusi UNESCO untuk memperkuat pesannya:
“Because wars begin in the minds of men, it is in the minds of men that the defenses of peace must be constructed.”
(Karena peperangan bermula di dalam pikiran manusia, maka di dalam pikiran manusia pulalah pertahanan perdamaian harus dibangun).
Puncak acara ditandai dengan pelaksanaan prosesi “Hening Nusantara”. Seluruh peserta di dalam vihara melakukan meditasi dalam keheningan total secara serentak bersama ribuan umat Buddha lainnya di seluruh Indonesia. Momen ini menjadi simbol refleksi diri, persatuan, dan doa bersama untuk kedamaian NKRI.
Nuansa toleransi dan persatuan internal umat Buddha sangat kental terasa setelah sesi meditasi. Acara dilanjutkan dengan pembacaan Paritta (doa-doa perlindungan) secara bergantian yang dibawakan oleh tiga tradisi besar Buddhis, yaitu Tradisi Mahayana, Tantrayana, dan Theravada.
Seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga pukul 18.00 WIB ini ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama secara sederhana. Melalui momentum “Hening Nusantara” ini, diharapkan nilai-nilai kedamaian, kebersamaan, dan kesadaran batin tidak hanya menggema selama perayaan Waisak, melainkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehari-hari. (Imelda)










