PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Sejumlah pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang mengikuti kegiatan Office to Sejagat yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang pada Selasa (20/01). Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan potensi ekowisata lokal sekaligus memberikan edukasi mendalam mengenai pelestarian lingkungan sungai dan mangrove di kawasan Sungai Kerabut.
Kepala Bidang Destinasi Pariwisata dan Industri Pariwisata, Riharnadi, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pengembangan konsep ekowisata edukatif terpadu. “Kami menyambut baik kehadiran rekan-rekan dari Kemenag. Saat ini kami membatasi jumlah peserta agar tetap terakomodir dengan baik sebelum peresmian penuh pada Februari mendatang,” ujar Riharnadi.
Melalui dokumentasi lapangan, terungkap bahwa Ekowisata Sejagat memiliki berbagai sub-program spesifik yang dirancang untuk menjaga keseimbangan alam:
– Mang-Jagat (Mangrove Jaga Habitat): Fokus pada pelestarian kawasan mangrove Sungai Kerabut seluas ±12 hektar yang membentang sepanjang 3,2 kilometer. Program ini memperkenalkan vegetasi utama seperti Bakau Merah (Rhizophora apiculata), Bakau Putih (Avicennia marina), Perepat, dan Nipah yang berfungsi sebagai penahan abrasi dan penyerap karbon.
– Yak-Jagat (Yuk Wisata Alam Konservasi): Inisiatif edukasi mengenai perilaku buaya muara sebagai penyeimbang alami rantai ekosistem sungai, menekankan bahwa menjaga buaya berarti menjaga keseimbangan kehidupan.
– Tor-Jagat (Tangkap Organik Ramah): Mengangkat kearifan lokal nelayan tradisional dengan mendemonstrasikan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan seperti pintor, bubu ikan, bubu kepiting, dan perangkap udang alami tanpa merusak habitat.
– Cing-Jagat (Cinta Mancing, Jaga Alam): Mengedukasi penghobi memancing tentang etika memancing yang berkelanjutan di ekosistem mangrove.
– Kerabut-Jagat: Upaya pelestarian sejarah, budaya, dan kuliner lokal masyarakat pesisir Sungai Kerabut guna memperkuat identitas kawasan.
– School to Sejagat: Program khusus yang digratiskan bagi siswa SD, SMP, dan SMA di Kecamatan Gabek (seperti SDN 6, SDN 10, SMPN 7, hingga SMAN 4) untuk belajar langsung mengenai lingkungan sungai.
Kegiatan susur sungai ini menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat. Seluruh peserta diwajibkan mengenakan pelampung dan mematuhi aturan kearifan lokal, seperti dilarang membawa telur atau ketan, dilarang berperilaku gurak (bahagia berlebihan), serta tidak diperbolehkan menyentuh air sungai demi keamanan dari habitat buaya muara.
Riharnadi memberikan catatan kritis bahwa hutan mangrove saat ini sedang menghadapi ancaman penebangan untuk pemukiman. Padahal, kawasan ini merupakan rumah bagi 100-200 ekor buaya muara dan berbagai biota seperti udang galah (satang).
“Kami berharap melalui berbagai program seperti Office to Sejagat ini, para pegawai dapat membantu mempromosikan pentingnya menjaga jarak bangunan 50-100 meter dari bibir sungai,” tambahnya. Selain sebagai sarana edukasi, lokasi ini juga mulai dikembangkan untuk program foto pre-wedding bagi masyarakat yang menginginkan sensasi alam yang otentik.
Kegiatan ini diharapkan mampu menambah wawasan kolektif mengenai pentingnya menjaga ekosistem Sungai Kerabut yang terkoneksi langsung ke laut, sekaligus mendukung rencana pembangunan Embung Eka Guna di Tua Tunu sebagai sumber air masa depan Kota Pangkalpinang. (Imelda)












