PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Ruang Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Bangka Belitung mendadak riuh oleh untaian kalimat penuh sinisme yang menyengat kuping manajemen PT Gunung Maras Lestari (GML). Tokoh pemuda sekaligus pengamat sosial budaya Babel, Ahmadi Sopian yang akrab disapa Atok Kulop dihadirkan khusus oleh Ketua DPRD untuk membedah konflik menahun yang tak kunjung usai antara korporasi sawit tersebut dengan masyarakat di 9 desa, Rabu (3/6/2026).
Bukannya memberikan untaian kata manis, Atok Kulop justru melempar “bom waktu” berupa sindiran tajam. Ia meminta manajemen PT GML untuk menggelar karpet merah dan bersujud syukur karena beroperasi di tanah Bangka, tempat di mana masyarakatnya masih memiliki urat sabar yang luar biasa tebal.
“Saya kasih masukan buat PT GML, banyak-banyak bersyukur! Beruntung bapak-bapak ini berada di tengah masyarakat desa yang punya adat dan nurani. Padahal kalau mau jujur, mereka sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi kecuali mengamuk dan membakar kantor bapak,” cetus Ahmadi Sopian dengan nada sinis yang menguliti kesabaran warga.
Menggunakan analogi yang bikin bulu kuduk berdiri, Atok Kulop menceritakan pengalamannya di daerah lain di mana kantor perusahaan sawit hangus menjadi abu akibat nekat menginjak-injak hak rakyat. Baginya, PT GML selama puluhan tahun ini telah menikmati “keamanan gratis” dari keluhuran budi pekerti warga 3 kecamatan di Kabupaten Bangka.
Namun, ia mengingatkan agar kenyamanan ini jangan membuat korporasi menjadi bebal dan menganggap masyarakat bisa terus-menerus diberi janji palsu.
“Saya membayangkan kalau GML itu berada di tengah masyarakat yang barbar. Nggak menyampe, Pak, puluhan tahun (konflik) seperti ini. Saya yakin sekali itu. Tapi jangan menganggap semua bisa selesai begitu saja karena berhadapan dengan masyarakat yang dianggap beradab. Siapapun orangnya, kalau harga diri mereka terlalu ditekan, pasti akan murka dan melakukan tindakan di luar nalar kita!” tegasnya memperingatkan.
Kian meruncing saat penulis buku ini memplesetkan singkatan nama perusahaan tersebut. Ia menyoroti hobi klasik korporasi yang gemar melakukan “cuci tangan” setiap kali terjadi pergantian nakhoda manajemen. Skenario kuno di mana manajemen baru selalu enggan memikul dosa dan utang dari komitmen manajemen lama.
“GML harus tetap menjadi Gunung Maras Lestari, bukan Gasak Masyarakat Lemah! Yang terjadi selama ini, berganti manajemen, selalu komitmen yang lama itu tidak dipakai. Alasannya, ‘oh itu kan yang lama, kami ini yang baru’. Hebat sekali cara mainnya,” sindir Atok Kulop disambut senyum getir para peserta rapat.
Atok Kulop mengamini ketegasan Ketua DPRD Babel terkait status kebun plasma 20% yang sudah menjadi dongeng pengantar tidur selama bertahun-tahun. Baginya, plasma adalah utang darah perusahaan sejak pertama kali pohon sawit mereka menancapkan akar di bumi Bangka.
Ia juga berkelakar secara sinis mengenai betapa melelahkannya pusaran konflik ini, hingga dirinya yang sudah “pensiun” dan tinggal di kebun pun tetap menjadi tempat penampungan air mata warga yang frustrasi.
“Pak Ketua DPRD sudah capek, anggota Dewan capek. Saya yang bukan siapa-siapa di kampung, yang sudah tinggal di kebun, seringkali didatangi masyarakat yang mengeluh. Mereka cerita masalah GML ke saya. Padahal saya sendiri sudah banyak masalah, ditambah lagi harus mendengar cerita GML yang tidak pernah selesai ini,” pungkasnya, menutup sebuah kritik sosial yang menampar keras wajah manajemen perusahaan. (4WD)










