PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Dalam upaya memperkokoh nilai-nilai toleransi dan pembentukan karakter generasi muda, para penyuluh lintas agama dari Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang menggelar kegiatan pembinaan keagamaan bagi siswa kelas X SMKN 1 Pangkalpinang. Kegiatan yang menyasar siswa penganut agama Katolik ini dilaksanakan di Aula Kantor Urusan Haji dan Umrah Kemenag Kota Pangkalpinang pada Selasa (03/03/2026).
Acara ini menjadi momentum istimewa karena mengedepankan konsep dialogis, di mana materi tidak hanya disampaikan oleh penyuluh seagama, tetapi juga melibatkan perspektif dari berbagai pemuka agama lain sebagai bentuk implementasi nyata moderasi beragama.
Pembinaan ini menghadirkan panel narasumber yang membedah tema spiritualitas dari berbagai sudut pandang teologis. Yohanes Bosco Otto, selaku penyuluh lintas agama Katolik, menjadi pemateri utama dengan mengusung tema “Puasa dan Pantang Berbuah Cinta”. Ia menekankan bahwa dalam tradisi Katolik, praktik askese atau penyangkalan diri melalui puasa bukan sekadar kewajiban hukum gereja, melainkan sarana untuk mempertajam kepekaan sosial dan rasa kasih terhadap sesama.
Melengkapi pemaparan tersebut, narasumber dari latar belakang agama lain turut memberikan wawasan komparatif yang memperkaya khazanah berpikir para siswa:
– Perspektif Islam: Penyuluh Agama Islam, Emmi Rianti, memaparkan hakikat puasa dalam Islam sebagai bentuk disiplin diri dan metode penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
– Perspektif Hindu: Gusti Ayu Komang Triana, penyuluh Agama Hindu, menguraikan konsep Upawasa (puasa) yang bertali temali erat dengan ajaran cinta kasih universal atau Tat Twam Asi.
Selain pembahasan mengenai ritualitas, esensi kebangsaan turut menjadi sorotan utama. Penyuluh Agama Islam, Dwiyana Ocviyanti, secara khusus menyampaikan materi mengenai Cinta Kasih Implementasi Nilai Moderasi Beragama. Ia menggarisbawahi pentingnya memiliki sikap beragama yang moderat—tidak ekstrem kiri maupun kanan—terutama di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. Sedangkan Neng Ilma Aprilyanti memaparkan kerukunan umat beragama di mana generasi muda wajib menjaga kerukunan umat beragama di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.
“Pendidikan karakter bagi siswa SMK bukan hanya soal kompetensi teknis, tetapi juga bagaimana mereka mampu menjadi warga negara yang menghargai perbedaan. Kehadiran penyuluh dari berbagai agama di hadapan siswa Katolik ini adalah pesan visual bahwa kerukunan adalah kekuatan kita,” ujar Yohanes Bosco.
Melalui sinergi lintas agama ini, diharapkan para siswa SMKN 1 Pangkalpinang tidak hanya tumbuh menjadi individu yang taat secara ritual, tetapi juga memiliki karakter yang inklusif dan mampu menjaga harmonisasi sosial di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas. (Imelda)












