Ratusan Generasi Emas Khatam Al-Qur’an, Sayang Sekali Walikota “Absen” Diganti Udin Kw

oleh -887 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Gemuruh suara ratusan santri yang melantunkan ayat suci dalam acara Wisuda Santri/Santriwati TPQ ke-XVI Kemenag Kota Pangkalpinang, Kamis (21/5), seolah menjadi oase di tengah gersangnya apresiasi pemimpin daerah. Sebanyak 811 santri resmi diwisuda di Bangka City Hotel, menjadi bukti sahih bahwa semangat syiar Islam di Pangkalpinang masih bernapas, meski tak jarang harus berjuang di tengah minimnya perhatian orang nomor satu di kota ini.

 

banner 336x280

Acara yang seharusnya menjadi panggung kehormatan bagi “Generasi Emas” calon pilar peradaban ini justru kehilangan daya magisnya. Sosok Walikota yang biasanya haus akan panggung seremonial, kali ini mendadak menjadi sosok yang sulit ditemui. Meskipun sang Walikota dikabarkan sedang berada di Pangkalpinang, agenda lain rupanya jauh lebih “suci” dibandingkan memberikan dukungan langsung kepada generasi masa depan kota ini.

 

Walhasil, kursi kehormatan itu harus diisi oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Syafaruddin yang juga merangkap jabatan sebagai Plt Kepala Bakueda Pangkalpinang.

 

Dalam sambutannya, Syafaruddin yang mewakili Walikota mencoba memberikan apresiasi. Dengan gaya yang terkesan gamang, ia bahkan sempat melontarkan pernyataan yang cukup menggelitik mengenai sosok “Udin”.

 

“Udin kebetulan namanya sama dengan kami, tapi beda nasibnya,” ujar Syafaruddin di hadapan para santri, seolah menyiratkan bahwa di pemerintahan ini, posisi jabatan seringkali lebih berharga daripada kehadiran fisik dalam momentum keagamaan yang krusial.

 

Syafaruddin menegaskan bahwa wisuda ini bukanlah sekadar acara seremonial tahunan, melainkan sebuah “amalan jariyah” dan legasi dari kepemimpinan daerah terdahulu, yakni masa jabatan Bapak Alamahum Zulkarnain Karim.

 

“Ini adalah kegiatan yang menjadi penghukum program pemerintah. Ini warisan legasi pimpinan daerah kita yang berlalu, yang harus terus kita jaga,” ungkapnya.

 

 

Meskipun Pemerintah Kota Pangkalpinang berjanji akan terus memberikan support agar kegiatan syiar Islam ini tetap berlanjut hingga akhir zaman, namun ketidakhadiran Walikota di tengah 811 santri menjadi catatan buram tersendiri. Bagi para orang tua santri dan guru TPQ, janji manis melalui suara staf ahli tentu terasa hambar jika dibandingkan dengan kehadiran fisik sang pemimpin yang seharusnya memberikan teladan.

 

Seolah sadar akan suasana yang kaku, Syafaruddin mencoba mencairkan keadaan dengan mengajak para santri berbalas pantun sebelum menutup sambutannya. Namun, bagi publik yang cerdas, pantun-pantun tersebut hanyalah pemanis bibir untuk menutupi kosongnya kursi Walikota yang seharusnya menjadi peneduh bagi generasi emas Pangkalpinang.

 

Jika memang benar para santri ini adalah penyangga peradaban, mengapa sang pemimpin justru memilih “sibuk dengan urusan lain” di saat cahayanya sedang disatukan? Hanya Walikota yang tahu jawabannya, atau mungkin, ia memang sedang tidak ingin diganggu oleh kesederhanaan para penghafal Al-Qur’an. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.