BANGKA, BERITA-FAKTA.COM – Di bawah rindangnya pepohonan Kebun Atok Kulop, Desa Kemuja, Mendo Barat, sebuah harmoni tercipta antara penegak hukum dan rakyatnya. Bukan di balik meja formal yang kaku, melainkan di atas tanah yang basah oleh keakraban, Wakapolda Bangka Belitung, Brigjen. Pol. Murry Miranda, duduk bersila mendengarkan detak jantung aspirasi masyarakat dalam kegiatan Jumat Curhat, Jumat (17/4/2026).
Ibarat “sirih pulang ke gagang”, kehadiran Brigjen Pol. Murry Miranda di Kemuja bukanlah hal asing. Ahmadi Sopian, atau yang akrab disapa Atok Kulop, selaku Ketua Pokdar Kamtibmas Babel, menegaskan bahwa sang Jenderal adalah bagian dari keluarga besar masyarakat setempat.
“Beliau ini orang Belitung, tapi istrinya alumni Aikrabok Kemuja. Istilahnya, beliau sudah mandi air kita di sini. Jadi, kehadiran beliau pagi ini bukan sekadar kunjungan dinas, tapi pulang ke rumah sendiri untuk mendengar diskusi masyarakat,” ujar Atok Kulop dengan nada bangga.
Dalam arahannya yang sarat makna, Wakapolda menekankan filosofi integritas internal. Beliau mengibaratkan institusi Polri seperti sebuah cermin; jika cerminnya retak, maka pantulan yang dihasilkan pun akan cacat.
“Prinsip saya, sebelum menyentuh masyarakat, saya perbaiki dulu ke dalam. Sia-sia kita memperbaiki masyarakat jika diri kita sendiri tidak baik. Saya tanamkan kepada seluruh anggota: cintailah pekerjaanmu agar kamu dicintai masyarakat,” tegas Brigjen Pol. Murry Miranda.
Beliau juga menambahkan bahwa pengawasan terhadap anggotanya dilakukan tanpa mengenal waktu, baik siang maupun subuh, demi memastikan pelayanan publik bukan sekadar lip service atau pemanis bibir semata.
Suasana cair menyelimuti sesi curhat. Berbagai isu hangat menyembur dari bibir warga, mulai dari:
• Kenakalan Remaja & Bullying: Kekhawatiran orang tua terhadap masa depan tunas bangsa di sekolah.
• Narkoba: Ancaman laten yang merusak sendi-sendi desa.
• Lalu Lintas & Pertambangan: Polemik ruang hidup dan keselamatan di jalan raya.
Menanggapi hal tersebut, Wakapolda membuka pintu hati seluas-luasnya. “Silakan beri ‘sentilan’ kepada Kapolres atau Polsek. Kami terima dengan hati lapang. Kita di sini untuk memperbaiki, bukan untuk membela diri,” pungkasnya.
Menepis isu miring terkait tahun politik, Sang Jenderal menegaskan bahwa gerakannya murni untuk pengabdian, tanpa embel-embel kepentingan 2029. Beliau ingin meruntuhkan tembok stigma yang selama ini membuat polisi terkesan ingin dilayani.
“Masyarakat adalah Raja, kami adalah pelayan. Stigma lama harus kita hapus. Sekarang terbalik, kami yang harus melayani masyarakat kapan pun dan di mana pun,” ucapnya mantap.
Acara ditutup dengan candaan hangat yang memecah suasana, di mana Wakapolda mempersilakan warga curhat apa saja, kecuali urusan mencari jodoh karena di tempat tersebut tidak ada yang “bujang”. (4WD)














