Proyek PLTN di Pulau Gelasa: Antara Ambisi Kertas dan “Misteri” Dampak Ekologi

oleh -55 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Rencana besar pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Gelasa, Kabupaten Bangka Tengah, kini menyisakan tanda tanya besar di benak publik. Bak panggang jauh dari api, paparan teori dari pihak pengembang dinilai belum menyentuh realita kecemasan masyarakat di akar rumput.

 

banner 336x280

Dalam Forum Diskusi Publik bertajuk “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung: Diskusi Data dan Fakta” yang digelar di Hotel Aston Pangkalpinang, Sabtu (7/2), suasana mendadak riuh saat Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bangka, Ahmad Wahyudi, melontarkan pertanyaan tajam.

 

Ahmad Wahyudi menyoroti klaim teknis mengenai suhu termal 704° Celsius yang dihasilkan dari operasional PLTN. Secara matematis, ia mengalkulasi bahwa arus panas di dasar laut tersebut mampu menjangkau radius hingga 32 kilometer.

 

“Jika hitungan ini berjalan selama tiga tahun saja, air laut di Pantai Pasir Padi yang menjadi ikon kita bisa berubah menjadi hangat. Bagaimana nasib ekosistem bawah laut kita?” cetus Wahyudi.

 

Mungkin terasa jauh, namun bagi nelayan dan masyarakat pesisir, ancaman perubahan suhu air laut adalah “lonceng kematian” bagi biodiversitas lokal yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi mereka.

 

Tak hanya soal ekologi, Wahyudi juga menyuarakan fenomena Radiophobia atau ketakutan kolektif masyarakat akan potensi ledakan nuklir serta kekhawatiran jika teknologi ini disalahgunakan untuk kepentingan militer.

 

Menariknya, meski proyek ini disebut-sebut bakal mendapat kucuran dana fantastis senilai belasan juta dolar Amerika dari perusahaan asal USA, hal tersebut tak lantas meredam kekhawatiran. Uang melimpah seolah tak mampu membeli rasa aman warga.

 

Alih-alih memberikan penjelasan konkret dan menenangkan, pihak PT Thorcon Power Indonesia justru terkesan “gagap” dalam menjawab tantangan tersebut. Alih-alih menyajikan data mitigasi yang komprehensif, mereka dinilai lebih banyak melakukan penyangkalan atas kemungkinan dampak sosial dan ekologi.

 

Hasil diskusi ini memberikan kesan pahit bagi publik. Pihak perusahaan dianggap hanya piawai memaparkan teori teknis namun buta terhadap realitas lapangan. Tidak adanya jawaban tegas terkait dampak lingkungan menunjukkan celah besar dalam perencanaan tahap 2 PLTN di Babel. Transparansi mengenai risiko jangka panjang masih tertutup rapat di balik angka-angka investasi.

 

Diskusi publik ini menjadi cermin bahwa pembangunan besar tidak bisa hanya mengandalkan “logika angka”. Tanpa pemahaman yang mendalam terhadap ekologi dan pendekatan kemanusiaan, proyek PLTN di Pulau Gelasa dikhawatirkan hanya akan menjadi monumen ambisi yang mengabaikan keselamatan bumi serumpun sebalai.(TIM SMSI BANGKA)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.