PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, Ustazah Dwiyana Ocviyanti, memberikan bimbingan rohani mendalam bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas III Pangkalpinang, Jumat (20/02). Fokus kajian kali ini membedah urgensi keimanan terhadap hari akhir melalui kacamata tafsir Al-Qur’an.
Dalam kegiatan yang berlangsung khidmat di aula Lapas tersebut, Ustazah Dwiyana secara spesifik mengupas tuntas Surah Al-Fatihah ayat 4, yakni “Maaliki Yaumiddiin” (Pemilik Hari Pembalasan), dengan merujuk pada kitab Tafsir Al-Azhim karya Ibnu Katsir.
Ustazah Dwiyana menjelaskan bahwa penyebutan Allah sebagai “Pemilik Hari Pembalasan” merupakan pengingat bagi setiap hamba bahwa pada hari itu, tidak ada kekuasaan, jabatan, maupun pengaruh manusia yang berlaku. Berdasarkan penjelasan dalam Tafsir Al-Azhim, ayat ini menegaskan kedaulatan tunggal Allah SWT di hari di mana seluruh amal perbuatan akan dihisab secara adil.
“Ayat ini bukan sekadar bacaan dalam salat, melainkan alarm bagi jiwa. Di hari pembalasan, setiap individu bertanggung jawab penuh atas apa yang telah ditanamnya di dunia,” ujar Dwiyana di hadapan para jamaah.
Beberapa poin krusial yang dipaparkan dalam kajian tersebut meliputi:
– Definisi Ad-Din: Dalam konteks ayat ini, Ad-Din bermakna pembalasan atau perhitungan (Al-Jaza’ wa al-Hisab). Segala perbuatan, sekecil apa pun, akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.
– Motivasi Perubahan Diri: Memahami bahwa Allah adalah Hakim Yang Maha Adil diharapkan mampu memicu semangat tobat dan perbaikan diri (islah) bagi para warga binaan agar lebih siap menghadapi masa depan, baik di dunia maupun di akhirat.
– Penyerahan Diri Total: Menyadari keterbatasan manusia di hadapan kekuasaan Allah, sehingga menumbuhkan sifat rendah hati dan menjauhkan diri dari kesombongan.
Kehadiran Penyuluh Agama dari Kemenag Pangkalpinang ini merupakan bagian dari program rutin pembinaan kepribadian bagi WBP. Pihak LPP Kelas III Pangkalpinang berharap melalui kajian tafsir yang mendalam, para warga binaan tidak hanya sekadar menghafal ayat, tetapi juga memahami filosofi di baliknya untuk dijadikan pedoman hidup.
Interaksi aktif terlihat selama sesi tanya jawab, di mana para peserta antusias menggali lebih dalam mengenai cara menjaga istiqomah dalam beribadah meskipun berada di balik jeruji besi. (Imelda)













