Oleh: Dwiyana Ocviyanti, S.Sy., M.Pd.
Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pangkalpinang.
Setiap pergantian tahun, dunia seakan berhenti sejenak. Kalender diganti, resolusi ditulis ulang, dan harapan kembali disematkan. Bagi umat Islam, momen itu tidak hanya hadir pada 1 Januari, melainkan juga pada 1 Muharram: awal tahun baru Hijriyah. Namun, sayangnya, tak sedikit dari kita yang melewatkan Muharram begitu saja, seolah-olah ia hanya deretan angka tanpa makna.
Padahal, Muharram adalah bulan yang luar biasa mulia. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai “Syahrullah”—bulannya Allah. Tidak ada bulan lain yang mendapatkan penyebutan serupa. Ini artinya, Muharram bukan bulan biasa. Ia adalah momentum istimewa yang disediakan Allah untuk hamba-Nya yang ingin memulai langkah baru, memperbaiki diri, dan meninggalkan masa lalu yang penuh noda.
Dalam konteks sosial hari ini, kita menyaksikan krisis karakter di berbagai lini: dari korupsi kelas elite hingga kekerasan di kalangan remaja. Kita terjebak dalam kemajuan teknologi yang kerap menggilas nilai spiritual. Maka Muharram datang bukan hanya untuk dikenang sebagai sejarah hijrahnya Rasul, tapi juga momentum kita menghijrahkan diri dari lalai menuju sadar, dari maksiat menuju taat.
Hari Asyura pada tanggal 10 Muharram sering hanya dikenal sebagai “hari puasa penghapus dosa setahun lalu”. Benar adanya, karena Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Namun, di balik itu, Asyura adalah simbol perjuangan. Di hari itulah Allah menyelamatkan Nabi Musa dari Fir’aun. Maka Rasulullah berpuasa sebagai bentuk syukur. Inilah pelajaran besar: bahwa ibadah bukan sekadar ritual, tapi respons spiritual terhadap nikmat dan ujian hidup.
Jika Musa diselamatkan dari penindasan, mengapa kita tidak menjadikan Asyura sebagai hari penyelamatan diri dari kesombongan, penyakit hati, kebiasaan buruk, dan kesia-siaan? Bahkan Nabi bersabda bahwa jika beliau masih hidup di tahun berikutnya, beliau akan berpuasa juga pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a), untuk membedakan diri dari Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10. Inilah teladan bahwa identitas Muslim bukan sekadar simbolik, tapi nyata dalam amal.
Puasa di bulan Muharram tidak harus menunggu tanggal 9 atau 10 saja. Rasulullah menyebut bahwa sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram. Ini artinya, Muharram adalah bulan spiritual, bulan menahan diri, dan bulan refleksi.
Refleksi yang sejati bukan hanya soal hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga kesadaran sosial. Di tengah krisis ekonomi dan kesenjangan yang makin menganga, mengapa tidak menjadikan bulan ini sebagai momentum berbagi? Kita bisa menghidupkan sunnah Rasul: melapangkan nafkah kepada keluarga pada hari Asyura.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, meski sanadnya diperselisihkan, disebutkan bahwa siapa yang melapangkan nafkah kepada keluarganya di hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun. Ini adalah amalan penuh cinta, bukan hanya spiritualitas individual, tapi ibadah sosial yang nyata.
Jika kita bicara tentang Hijriyah, maka yang utama adalah semangat hijrah. Rasulullah pernah bersabda:
“Seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah nilai. Dari lalai menjadi sadar. Dari membanggakan dosa menjadi malu berbuat dosa. Dari hidup yang dangkal menuju hidup yang bermakna. Dari media sosial penuh pamer menuju spiritualitas yang sunyi dan dalam.
Kita semua pernah letih. Letih menjadi baik di tengah lingkungan yang permisif. Letih menjaga iman di tengah arus konten tak bermoral. Tapi Muharram hadir sebagai pelipur: bahwa Allah membuka awal tahun Hijriyah dengan bulan mulia, agar kita tahu, masih ada kesempatan untuk berubah.
Tak perlu meriah. Tak perlu pesta. Cukup niat yang tulus, amalan yang ringan tapi konsisten, dan langkah kecil menuju-Nya. Muharram bukan sekadar angka di kalender. Ia adalah pintu pulang bagi jiwa yang ingin bertobat dan tumbuh. (M3L)











