Kreatif Tapi Kelewat Batas: Saat Tudung Saji Sakral Berubah Fungsi Jadi Penutup Tong Sampah di Pangkalpinang

oleh -1233 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Ada yang unik, atau mungkin lebih tepatnya menggelikan, dari pemandangan terbaru di sudut-sudut Kota Pangkalpinang. Pemerintah Kota Pangkalpinang tampaknya baru saja menorehkan “sejarah” baru dalam dunia estetika tata kota. Bagaimana tidak, tudung saji yang secara turun-temurun dihormati sebagai simbol kesakralan adat Melayu Bangka Belitung, kini naik jabatan, resmi menjadi penutup tong sampah. Sebuah lompatan logika kebudayaan yang luar biasa berani, kalau tidak boleh disebut fatal.

 

banner 336x280

Fasilitas publik yang berasal dari bantuan pihak ketiga ini mendadak viral dan menuai sorotan tajam. Alih-alih mempercantik kota dengan muatan lokal, penempatan tudung saji di atas tempat penampungan limbah tersebut justru dinilai sebagai bentuk pelecehan visual terhadap budaya Bangka Belitung.

 

Bagi masyarakat lokal, makna tudung saji Bangka bukan sekadar anyaman bambu pewarna merah-bermotif. Ia adalah simbol penghormatan, pelindung makanan istimewa yang disajikan untuk keluarga tercinta, tamu agung, atau dalam tradisi sakral Nganggung.

 

Namun, di bawah kebijakan estetika kota saat ini, filosofi itu diputarbalikkan 180 derajat. Tudung saji kini dipaksa ramah dengan bau busuk, lalat, dan sisa limbah rumah tangga.

 

Kondisi ini memantik kritik pedas dari budayawan sekaligus penulis asal Bangka Belitung, Ahmadi Sopian, yang akrab disapa Atok Kulop. Pada Selasa (9/6/2026), dengan nada getir ia menguliti habis kebijakan yang dianggap lahir dari ketidakpahaman mendalam terhadap nilai sosiologis masyarakat.

 

“kalau die salah menerima tempat sampah yang atas e ade tudung saji, kritik ku salah! Dek paham! Seharus e die menolak bantuan pihak ketiga itu, atau merevisi, suruh pihak ketiga itu merevisi jangan pakai tudung saji seperti itu,” ujar Atok Kulop dengan dialek khasnya yang lugas.

 

Menurut Atok Kulop, penempatan ini memicu analogi liar yang sangat ironis: seolah-olah Pangkalpinang saat ini sedang sibuk menutupi segala keburukan, kebusukan, dan hal-hal jelek di dalamnya dengan menggunakan penutup yang tadinya dianggap sakral.

 

Sangat disayangkan, ketidakpekaan terhadap pelestarian budaya Melayu ini justru terjadi di bawah hidung kepemimpinan seorang akademisi bergelar Profesor. Sebagai kepala daerah, Walikota Pangkalpinang dituding hanya asal menerima bantuan dari pihak ketiga tanpa memikirkan dampak psikologis dan kultural bagi masyarakatnya.

 

Jika sejak awal memiliki sensitivitas budaya yang matang, sang walikota tentu akan langsung menolak desain tersebut atau setidaknya meminta pihak ketiga untuk merevisi konsepnya sebelum dipajang di ruang publik.

 

Bantuan diterima mentah-mentah atas nama “keindahan kota”. Simbol kehormatan adat turun kasta menjadi penjaga aroma sampah.

 

Kritik keras dari para budayawan ini sejatinya menjadi tamparan keras sekaligus pesan terbuka bagi pemerintah daerah untuk bekerja lebih benar, lebih jeli, dan tidak buta terhadap budaya sosial masyarakat Pangkalpinang.

Pembangunan fisik kota tidak boleh mengorbankan akar identitas budaya yang telah hidup ratusan tahun.

 

Masyarakat tentu berharap pemerintah segera mengevaluasi keberadaan tong sampah “berkedok adat” tersebut. Menjaga kebersihan kota adalah hal yang mutlak, namun merendahkan simbol tradisi demi estetika yang keliru jelas bukan cara yang bijak. Singkirkan tudung saji dari atas tumpukan sampah, kembalikan ia ke tempat yang terhormat. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.