Kelangkaan LPG 3 Kg Masih Melanda Babel, Cuaca Buruk dan Salah Sasaran Jadi Biang Kerok

oleh -58 Dilihat
oleh
ILUSTRASI Kelangkaan Gas Melon dipicu Cuaca Buruk dan Salah Sasaran (Foto: ist)
ILUSTRASI Kelangkaan Gas Melon dipicu Cuaca Buruk dan Salah Sasaran (Foto: ist)
banner 468x60

Berita-Fakta — Kelangkaan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram (gas melon) masih menjadi keluhan utama masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga akhir Januari 2026. Warga kecil di Pangkalpinang, Sungailiat, hingga Belitung harus antre berjam-jam atau berkeliling ke beberapa pangkalan.

Hal itu dilakukan hanya untuk mendapatkan satu tabung, sementara harga di tingkat pengecer melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp18.000–Rp19.000 per tabung.

banner 336x280

Berdasarkan pantauan lapangan dan keterangan pelaku usaha distribusi, faktor utama kelangkaan ini adalah kombinasi cuaca buruk di jalur laut dan penggunaan LPG subsidi yang tidak tepat sasaran.

“Cuaca laut akhir-akhir ini memang ekstrem, gelombang tinggi dan angin kencang bikin kapal pengangkut elpiji sering delay atau bahkan batal berlayar. Stok di gudang agen dan pangkalan jadi tidak stabil,” ujar Santo, salah seorang pelaku distribusi LPG di Pangkalpinang, Senin (22/1/2026).

Data dari Pertamina MOR II Sumbagsel mencatat, pengiriman LPG 3 kg ke Babel pada Januari 2026 memang mengalami penurunan signifikan dibanding Desember 2025 akibat musim angin utara yang masih kuat. Kapal-kapal dari pelabuhan utama seperti Tanjung Api-Api (Sumsel) dan Ciwandan (Banten) sering tertunda hingga 3–5 hari.

Namun, cuaca bukan satu-satunya penyebab. Penggunaan gas melon yang meluas di kalangan menengah ke atas dan usaha komersial menjadi masalah kronis yang terus berulang.

Pantauan di lapangan menunjukkan, tabung gas subsidi masih kerap terlihat di rumah tangga mampu, warung makan skala menengah, katering, bahkan hotel kecil dan restoran pinggir jalan. Seharusnya, LPG 3 kg hanya untuk rumah tangga miskin dan usaha mikro sesuai Perpres No. 104 Tahun 2007 dan aturan turunannya.

“Kalau masyarakat mampu terus pakai gas melon, kuota subsidi yang seharusnya untuk rakyat kecil pasti cepat habis. Ini sudah masalah sistemik, bukan cuma pasokan,” keluh Tama, warga Pangkalpinang yang harus bolak-balik ke lima pangkalan sebelum dapat satu tabung.

Harga melonjak di tingkat pengecer juga jadi bukti kuat penyalahgunaan. Di beberapa kelurahan di Pangkalpinang dan Sungailiat, harga eceran dilaporkan mencapai Rp25.000 hingga Rp32.000 per tabung naik 30–70% dari HET.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama Pertamina, Polri, dan Satpol PP segera lakukan langkah konkret:

– Perketat pengawasan distribusi di pangkalan dan agen agar tidak bocor ke sektor non-RT.
– Sosialisasi masif agar masyarakat mampu beralih ke LPG nonsubsidi (Bright Gas 5,5 kg atau 12 kg).
– Antisipasi cuaca buruk dengan stok buffer lebih besar di gudang provinsi atau percepat distribusi saat cuaca membaik.
– Razia rutin terhadap usaha menengah yang pakai gas subsidi.

Hingga kini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Babel serta Pertamina belum merilis pernyataan resmi terbaru soal kuota dan jadwal pengiriman Januari–Februari 2026. Warga kecil Babel berharap kelangkaan ini tidak berlarut hingga Ramadan mendatang, di mana kebutuhan gas melon biasanya melonjak tajam. (EAD/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.