Filosofi Resiliensi dalam Helai Kain Cual Maslina: Menguak Tabir Keteguhan ‘Biji Pare’ dan Manifestasi Identitas Bangka Belitung

oleh -118 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh : Zul Akbar

Prodi : Konservasi Sumber Daya Alam

banner 336x280

Asal Kampus : Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Dosen Pengampu MK Etnobiologi : Dr. Sulvi Purwayantie,S.TP.,MP.

 

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Kain Cual Maslina berdiri sebagai pilar utama dalam pelestarian wastra Bangka Belitung, yang secara historis merupakan rekonstruksi kejayaan Tenun Cual Bangka Muntok yang berakar kuat sejak abad ke-18 melalui garis keturunan Ence’ Wan Abdul Haiyat di Kampung Petenon. Sebagai sebuah mahakarya yang lahir dari perpaduan teknik songket dan ikat, Kain Cual pada mulanya bukan sekadar komoditas tekstil, melainkan sebuah instrumen kekuasaan dan identitas aristokrasi yang menjadi pakaian kebesaran kaum bangsawan serta elemen krusial dalam upacara sakral seperti pernikahan dan hari raya besar Islam. Dalam struktur sosial masyarakat Melayu Muntok, posisi Kain Cual bertindak sebagai penanda strata sosial (pangkat dan kedudukan) melalui penggunaannya sebagai mahar atau hantaran pengantin yang tegas, menunjukkan bahwa setiap lembar kain tersebut memiliki “jiwa” yang merepresentasikan martabat sebuah keluarga. Sebagaimana yang diungkapkan dalam studi seni dan budaya oleh Rahmawati (2019), menegaskan bahwa motif flora dalam wastra nusantara, termasuk Cual, memiliki makna simbolik mendalam yang tidak hanya bersifat dekoratif, tetapi juga sebagai cerminan nilai-nilai kesucian dan tata krama yang dijunjung tinggi oleh pemakainya.

 

Memasuki dimensi estetika dan filosofis, motif biji pare pada Kain Cual Maslina (Gambar 1.1) menawarkan narasi kearifan lokal yang sangat unik dan penuh kontemplasi. Dalam ragam hias Kain Cual Maslina, motif biji pare menempati posisi sentral sebagai representasi semiotik yang melampaui sekadar estetika visual; ia adalah sebuah manifestasi kearifan lokal yang mengabstraksikan realitas biologi flora ke dalam nilai-nilai etika manusia. Secara visual, motif ini diwujudkan dalam pola bintik-bintik kecil yang rapat dan konsisten, mencerminkan ketelitian serta kesabaran luar biasa dalam proses penenunannya. Secara filosofis, motif ini mengadopsi dikotomi sifat buah pare yang memiliki rasa pahit namun menyimpan khasiat pengobatan yang tinggi. Hal ini dimaknai sebagai simbol keteguhan jiwa dan resiliensi, di mana perjuangan hidup yang pahit dan penuh cobaan harus dihadapi dengan kesabaran demi menghasilkan kemanfaatan (maslahat) bagi masyarakat luas. Motif ini memberikan pesan moral bahwa martabat seseorang tidak diukur dari kemudahan hidupnya, melainkan dari kemampuannya tetap teguh dan bermanfaat meski dalam kondisi tersulit sekalipun.

Gambar 1.1 Morif Biji Pare Kain Cual Maslina Gambar 1.2 Biji Pare

 

Pada opini https://binus.ac.id/character-building/2023/05/pare-dan-pahitnya-hidup/, menjelaskan filosofi pare juga mengajarkan kenikmatan hidup sebagai sebuah pilihan, natur pare yang pahit membuat banyak orang tidak menyukainya rasa pahit yang ada di dalam pare dan keputusan orang untuk memakannya adalah sebuah pilihan, pilihan untuk memakan dan menikmati enaknya rasa pahit pare adalah keputusan pribadinya. Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada situasi yang tidak ideal—terkadang penuh pilihan, terkadang seolah terjepit tanpa pilihan. Namun, filosofi pare mengingatkan bahwa bahkan dalam kondisi “tanpa pilihan” sekalipun, kita tetap memiliki kebebasan untuk menentukan sikap. Menikmati apa yang telah dipilih atau apa yang harus dijalani adalah kunci untuk menemukan pembelajaran yang berharga.

 

Motif flora dalam wastra tradisional berfungsi sebagai media edukasi lingkungan yang efektif; dalam konteks kain cual. Hal ini mengajarkan bahwa alam adalah sumber inspirasi intelektual dan spiritual yang harus dijaga keberadaannya. Pemilihan motif ini merupakan bentuk konservasi budaya berbasis ekologi dan memahami alam sebagai media konservasi, di mana pengrajin dan pemakai kain diajak untuk mengakui bahwa keberlangsungan identitas mereka bergantung pada kelestarian ekosistem lokal. Dengan demikian, motif biji pare bukan sekadar hiasan, melainkan instrumen pembelajaran budaya yang menanamkan kesadaran bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan yang saling menghidupi, sebuah prinsip yang sangat krusial di tengah ancaman degradasi lingkungan saat ini.

 

Keberlanjutan nilai-nilai ini diperkuat melalui mekanisme transfer pengetahuan yang dilakukan di sanggar Maslina, di mana setiap pengrajin tidak hanya diajarkan teknik menenun, tetapi juga dididik untuk memahami “ruh” dari setiap motif yang mereka kerjakan. pembelajaran berbasis objek budaya seperti ini memungkinkan terjadinya internalisasi nilai-nilai luhur secara lebih mendalam daripada sekadar teori. Motif biji pare akhirnya menjadi media pembelajaran karakter yang mengajarkan tentang kesederhanaan, ketulusan dalam memberi manfaat, dan penghormatan terhadap alam semesta sebagai warisan Tuhan yang tak ternilai harganya. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.