Dilema Kursi Dua Pangkalpinang: Apakah Dessy Ayutrisna Hanya Menjadi ‘Pajangan Indah’ di Samping Profesor Udin?

oleh -2327 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Panggung politik Kota Beribu Senyuman kini tengah mementaskan lakon yang familier. Di balik senyum simpul dan jabat tangan erat di depan kamera, aroma disharmoni mulai tercium dari balik dinding-dinding megah Kantor Walikota Pangkalpinang. Publik mulai bertanya-tanya: apakah sejarah sedang mengulang dirinya sendiri?

 

banner 336x280

Gelagat keretakan dan gesekan senyap mulai terbaca dalam roda pemerintahan di bawah komando sang akademisi, Profesor Udin. Gaya kepemimpinannya kini dinilai mulai menapak tilas jejak rival politik masa lalunya, Maulan Aklil.

 

Dalam beberapa dokumentasi resmi, kehadiran Wakil Walikota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna (yang akrab disapa Cece Desi), tampak selalu setia menemani sang Profesor. Mereka hadir berdampingan, melukiskan potret keserasian dan keharmonisan layaknya sepasang nakhoda yang siap membawa kapal Pangkalpinang berlayar menerjang badai.

 

Namun, pantauan tajam awak media di lapangan justru menangkap riak yang berbeda. Kehadiran Cece Desi disinyalir tak lebih dari sekadar “boneka bernyawa” yang kehilangan hak suara dan bicaranya. Ia ibarat hiasan dinding yang mempercantik ruangan, namun tak punya kuasa untuk mengubah arah angin kebijakan. Cece Desi hanya ditempatkan sebagai pendamping setia bagi sang Walikota bergelar Profesor tersebut, tanpa diberi panggung eksekutif yang nyata.

 

Bak matahari yang terbit di tempat yang salah, sorot lampu protokoler belakangan ini justru lebih gencar menyinari Susanti, istri dari Profesor Udin yang menjabat sebagai Ibu PAUD dan Ketua TP-PKK Kota Pangkalpinang.

 

Berdasarkan radar informasi dan agenda resmi yang dirilis oleh Humas Dinas Kominfo Kota Pangkalpinang, kehadiran Susanti justru mendominasi ruang publik. Ia seolah diberi “karpet merah” dan panggung yang megah untuk terus mempromosikan diri ke tengah masyarakat.

 

Fenomena ini memicu spekulasi liar di kalangan pengamat politik lokal. Apakah Profesor Udin sedang merajut benang yang sama dengan rival terdahulunya? Akankah sang istri dipersiapkan untuk melenggang mulus menuju kursi empuk DPRD Bangka Belitung, memanfaatkan fasilitas panggung birokrasi saat ini? Kesenjangan sosial dan porsi panggung ini kian benderang di mata media.

 

Publik Pangkalpinang tentu belum lupa pada memori kelam masa lalu, di mana Muhammad Sopian harus rela menelan pil pahit. Kala itu, ia menjelma menjadi simbol yang kesepian di sudut kantor, terkunci dalam sunyi tanpa tugas dan panggung yang berarti.

 

Kini, pertanyaan besar menggelayuti benak masyarakat: Apakah nasib Dessy Ayutrisna akan berakhir tragis di labirin politik yang sama? Menjadi pelengkap protokol yang kehabisan kata, sementara panggung kekuasaan sesungguhnya justru dimainkan oleh aktor lain di balik layar.

 

Waktu yang akan menjawab, apakah sang Profesor akan mengoreksi arah kompas kepemimpinannya, atau membiarkan riak kecil ini berubah menjadi tsunami politik yang memecah kongsi di Kota Pangkalpinang. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.