PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Suasana khidmat sekaligus meriah menyelimuti kawasan Jalan R.E. Martadinata, Kecamatan Taman Sari, Kota Pangkalpinang, pada Sabtu (4/7/2026) pagi. Sejak matahari baru saja terbit, ratusan umat Buddha dari berbagai penjuru Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah memadati halaman Vihara Bangka Dhammaram. Kehadiran mereka tak lain untuk melaksanakan sekaligus menyaksikan salah satu ritual paling sakral dalam tradisi Buddhis, yakni Pindapatta.
Sebanyak 50 Bhikkhu berjalan kaki secara beriringan dengan kepala tertunduk, membawa patta untuk menerima persembahan dari umat yang telah berbaris rapi di sepanjang jalan. Kegiatan religius berskala besar ini digelar dalam rangka memperingati Hari Raya Waisak 2570 BE/2026. Momentum ini terasa kian spesial karena dirangkaikan dengan acara pengukuhan Uposathagara (gedung pertemuan sakral para Bhikkhu) dan peresmian Dhammasala (ruang kebaktian) di Vihara Bangka Dhammaram.
Hadir langsung di lokasi acara, Pembimbing Masyarakat Buddha Kanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sakiyo. Dalam sambutannya di hadapan para tokoh agama dan pejabat daerah, Sakiyo menekankan bahwa Pindapatta memiliki makna spiritual yang sangat mendalam, melampaui sekadar tradisi memberi persembahan fisik atau material.
“Pindapatta bukan sekadar tradisi bagi umat Buddha untuk memberikan persembahan kepada para Bhikkhu. Lebih dari itu, ini merupakan praktik luhur untuk menumbuhkan kebajikan melalui memberi atau berdana. Ini adalah bentuk latihan melepas keakuan dan keserakahan,” ujar Sakiyo tegas.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat, Sakiyo secara khusus menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap panitia penyelenggara yang telah mempersiapkan acara dengan matang. Ia juga memuji ketulusan hati umat Buddha yang hadir membawa berbagai macam dana makanan sejak pagi buta.
Lebih lanjut, Sakiyo menaruh harapan besar agar ritual sakral ini tidak berhenti sampai di sini. Ia mendorong agar ke depan, Pindapatta dapat dikembangkan menjadi agenda rutin tahunan, khususnya untuk wilayah Kota Pangkalpinang. Menurutnya, visualisasi budaya yang kuat dari ritual ini berpotensi besar untuk memperkaya khasanah wisata religi dan daya tarik budaya daerah di mata nasional maupun internasional.
Harapan Pembimas Buddha tersebut disambut dengan tangan terbuka oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang. Mewakili Walikota Pangkalpinang, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Pangkalpinang, Drs. Agustu Afendi, M.Si., menyatakan kekagumannya atas ketertiban dan kedamaian yang terpancar sepanjang acara. Turut hadir mendampingi di lokasi, Penyelenggara Buddha Kemenag Pangkalpinang, Misno.
Dalam pandangan pemerintah daerah, kegiatan keagamaan yang melibatkan massa dalam jumlah besar namun tetap berlangsung damai merupakan aset sosial yang sangat berharga bagi citra daerah.
“Kegiatan Pindapatta ini dapat dijadikan tolak ukur nyata bagaimana keberagaman dan kerukunan umat beragama tumbuh subur di Kota Pangkalpinang. Pemerintah kota sangat menyambut baik dan siap memberikan dukungan penuh agar kegiatan keagamaan seperti ini dapat diintegrasikan menjadi agenda tahunan, sekaligus menambah khasanah baru pariwisata di kota kita,” ungkap Agustu Afendi dalam sambutannya.
Secara filosofis, Pindapatta sendiri merupakan tradisi kuno yang telah diwariskan sejak zaman Buddha Gautama. Dalam tradisi ini, para Bhikkhu berjalan mengumpulkan makanan demi kelangsungan hidup fisik mereka untuk belajar hidup dalam kesederhanaan utuh. Sebaliknya bagi umat awam, momen ini menjadi kesempatan emas untuk menimbun karma baik. Mereka meyakini bahwa berbuat baik yang paling mudah dan mendasar dalam hidup adalah memberi dengan penuh keikhlasan.
Cuaca cerah yang memayungi Kota Pangkalpinang seolah ikut merestui jalannya ritual. Sejak garis start dibuka di halaman Vihara Bangka Dhammaram, umat dengan rapi dan khidmat meletakkan makanan siap saji, buah-buahan, hingga bahan pangan ke dalam mangkuk para Bhikkhu.
Suasana haru dan sakral begitu terasa saat iring-iringan 50 Bhikkhu tersebut dengan perlahan membelah rute jalanan kota, mulai dari Jalan Trem, melewati Kingkong Kopitiam, Ace Hardware, Lampu Merah Ramayana, kawasan pertokoan BTC, Pasar Burung, hingga akhirnya berjalan kembali menuju titik awal di vihara. Sepanjang rute tersebut, masyarakat lintas agama pun tampak menyaksikan dengan penuh rasa hormat, menegaskan status Pangkalpinang sebagai kota yang aman, toleran, dan kaya akan warna budaya. (Gema)









