PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Memasuki awal musim penghujan, kondisi lingkungan di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, kembali menghadapi tantangan serius. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Selasa (27/10), kawasan Kolong Kacang Pedang yang sebelumnya mengalami kekeringan ekstrem dan menyisakan tanah retak-retak akibat musim kemarau panjang, kini mendadak tergenang air.
Nahasnya, genangan air tersebut datang bersama timbunan material sampah plastik dan limbah rumah tangga dalam jumlah kubikasi yang masif, mengapung dan mencemari badan air.
Kolong Kacang Pedang memiliki fungsi vital yang notabene merupakan sumber air baku bagi PDAM Kota Pangkalpinang. Kondisi pencemaran sampah plastik ini memicu keresahan publik mengenai kelayakan dan keamanan kualitas air bersih yang akan diolah untuk masyarakat.
Hujan deras yang mengguyur Kota Pangkalpinang dalam beberapa hari terakhir memicu genangan air di sejumlah ruas jalan utama. Aliran air permukaan tersebut membawa serta material sampah dari berbagai titik dan bermuara langsung ke kawasan kolong.
Fenomena ini mengindikasikan adanya disfungsi pada tata kelola perairan, sistem drainase, dan bandar (saluran air) kota. Jika sistem tanggap darurat dan normalisasi saluran tidak segera dioptimalkan, tumpukan sampah dan sedimentasi ini berpotensi memicu banjir parah yang kerap merendam kawasan-kawasan pesisir di Pangkalpinang.
Di tengah masifnya program gotong royong yang digalakkan Pemerintah Kota Pangkalpinang guna membersihkan lingkungan dan menata keindahan kota, kondisi Kolong Kacang Pedang menjadi ujian nyata atas efektivitas kebijakan tata ruang dan lingkungan hidup.
Masyarakat kini menanti langkah konkret dan program strategis dari Pemerintah Kota Pangkalpinang:
• Apakah penanganan sampah di kolong ini hanya dibiarkan terbawa arus hingga ke muara, atau akan ada aksi pembersihan terpadu?
• Bagaimana cetak biru (blueprint) pengelolaan tata air jangka panjang untuk memastikan fasilitas vital seperti sumber air baku steril dari pencemaran limbah domestik?
Langkah preventif dan kuratif yang cepat dari instansi berwenang sangat mendesak agar krisis ekologis ini tidak berubah menjadi ancaman kesehatan dan bencana banjir di tengah musim penghujan. (4WD)










