Air Mata Merah Putih di Gerbang Sungailiat: Ketika Tugu Berkarat dan Lambang Negara Terkoyak Sepi

oleh -692 Dilihat
oleh
banner 468x60

BANGKA, BERITA-FAKTA.COM — Pintu gerbang sebuah kota sejatinya adalah selembar wajah yang menyapa setiap pelancong dengan senyuman terbaiknya. Namun, pemandangan fenomenal yang menyayat hati justru tersaji ketika langkah kaki pertama kali memasuki rahim Kota Sungailiat, Kabupaten Bangka. Di sana, sebuah lanskap visual yang porak-poranda seolah berbisik lirih, mengusik nurani siapa saja yang melintas.

 

banner 336x280

Pada Sabtu (23/5), tatapan mata setiap pengendara akan langsung tertumpu pada Tugu Tudung Saji Bangka yang berdiri di jantung bundaran masuk kota. Monumen yang seharusnya menjadi lambang kehangatan, keramahan, dan kearifan lokal masyarakat Bumi Sepintu Sedulang itu kini tampak seperti prajurit tua yang terlupakan. Dibalut identitas korporasi Bank SumselBabel, tugu kebanggaan itu kini justru berselimut karat yang tebal, meranggas bagai penyakit yang menggerogoti besi-besi tua. Huruf-huruf penyusun kalimatnya telah banyak yang tanggal dan rusak, melahirkan kesan kumuh yang kental, seolah menceritakan kisah tentang sebuah pengabaian yang terstruktur.

 

Namun, keprihatinan tidak berhenti sampai di kulit luar estetika kota. Langkah yang bergeser ke area Gedung Juang Sungailiat justru menyuguhkan pemandangan yang jauh lebih menikam dada. Di atas tiangnya, Sang Saka Merah Putih berkibar dengan sangat nestapa. Bendera itu tidak lagi menyala dengan warna darah dan kesucian yang tegas, melainkan telah menjelma kain kusam, usang, bahkan robek dicabik angin. Ia meliuk-liuk di udara dengan tubuh yang koyak, seolah menangis tanpa air mata di atas bumi yang telah merdeka.

 

Sungguh sebuah ironi yang mahapedih. Gedung Juang, sebuah nama yang secara harfiah memikul beban sejarah untuk memancarkan api Semangat Perjuangan para pahlawan terdahulu, kini justru bertransformasi menjadi monumen kelalaian. Makna sakral dari tetesan darah para pejuang seakan menguap, tergilas oleh roda modernisasi yang melahirkan sikap apatis. Tampak jelas, para penghuni di dalam gedung bersejarah itu seolah telah kehilangan radar kepedulian terhadap lambang kedaulatan bangsanya sendiri.

 

Tempat ini bukan sekadar sudut mati yang tersembunyi. Ia adalah beranda depan, teras pertama, dan etalase utama menuju Ibu Kota Kabupaten Bangka. Lebih miris lagi, bangunan ini digadang-gadang sebagai Pusat Informasi Pariwisata Kota Sungailiat. Bagaimanakah mungkin sebuah pusat informasi pariwisata yang bertugas memamerkan keindahan justru membiarkan lambang negaranya sendiri berkibar dalam kondisi yang compang-camping dan sekarat?

 

Kelalaian kolektif ini seolah luput dari lensa perhatian, khususnya dari jajaran pimpinan di Kabupaten Bangka serta para pemangku kebijakan yang sehari-hari berkantor di gedung tersebut. Sungguh sebuah tanda tanya besar. Apakah rentetan kain robek yang menari-nari ditiup angin itu tidak pernah tertangkap oleh kornea mata mereka? Ataukah, ingatan kolektif tentang heroisme para syuhada bangsa memang telah terkikis habis, hingga tak menyisakan sedikit pun rasa takzim pada selembar kain merah putih?

 

Kini, Gedung Juang tak lebih dari sekadar semboyan monumental yang kosong tanpa resonansi jiwa. Di dalamnya, bersemayam raga-raga yang tampaknya abai menghargai untaian jasa masa lalu. Membiarkan bendera yang lusuh dan koyak tetap bertengger di puncak tiang di gerbang kota adalah bentuk penistaan visual terhadap nilai-nilai nasionalisme.

 

Menyikapi pemandangan yang tak elok ini, Tim Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bangka melayangkan pertanyaan besar dan tuntutan moral kepada pihak-pihak terkait. Mengapa pembiaran ini bisa terjadi di bawah hidung kekuasaan?

Hingga goresan berita ini diturunkan ke meja redaksi, belum ada satu pun verifikasi atau klarifikasi resmi dari pihak pengelola gedung maupun pemerintah daerah terkait berkibarnya bendera kusam yang memilukan tersebut. Harapan besar dititipkan melalui tinta jurnalisme ini; semoga coretan dari Tim SMSI Bangka mampu mengetuk pintu hati para pengambil kebijakan, agar secepatnya membenahi wajah gerbang Kota Sungailiat dan mengembalikan marwah Gedung Juang ke tempat yang semestinya. (SMSI)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.